Potongan aplikasi ojek online yang turun menjadi 8 persen langsung mengubah hitung-hitungan pendapatan para pengemudi. Dengan porsi bagi hasil yang lebih besar, mitra kini berpeluang membawa pulang lebih banyak dari setiap order tanpa harus menunggu kenaikan tarif perjalanan.
Perubahan ini penting karena penghasilan driver sangat bergantung pada jumlah order dan besaran potongan aplikasi. Saat biaya operasional terus berjalan dan order tidak selalu stabil, selisih beberapa ribu rupiah dalam satu perjalanan bisa memberi pengaruh nyata pada pendapatan harian.
Porsi mitra ikut naik
Skema baru ini membuat bagian pendapatan mitra naik dari 80 persen menjadi 92 persen. Artinya, beban potongan untuk aplikator mengecil dan ruang penghasilan bersih pengemudi menjadi lebih besar di setiap transaksi.
Pemerintah melalui Presiden Prabowo Subianto telah mengubah skema bagi hasil antara ojol dan aplikator. Kebijakan tersebut disebut akan mulai berlaku pada Juni 2026.
Salah satu aplikator besar, Gojek, juga disebut akan menjalankan amanat yang sudah disampaikan Presiden. Saat ini, perusahaan tinggal menunggu keputusan akhir untuk pelaksanaannya.
Simulasi order menunjukkan selisih yang terasa
Dampak paling mudah dipahami terlihat dari simulasi order bernilai Rp 30 ribu. Dalam skema sebelumnya, pengemudi hanya menerima Rp 24 ribu karena Rp 6 ribu dipotong aplikator.
Dengan aturan baru, order senilai Rp 30 ribu akan memberi pengemudi Rp 27.600. Potongan untuk aplikator turun menjadi Rp 2.400, sehingga selisih penghasilan dari satu order mencapai Rp 3.600.
Angka itu tampak kecil jika dilihat satu per satu, tetapi bisa menjadi berarti saat driver menyelesaikan banyak perjalanan dalam sehari. Karena itu, penurunan fee aplikasi menjadi 8 persen dipandang memberi ruang napas yang lebih besar bagi pengemudi.
Efeknya juga muncul di perjalanan jarak menengah
Gambaran lain terlihat dari skema tarif di Zona 1 yang mencakup Pulau Jawa dan Sumatera. Di wilayah ini, tarif awal berada di kisaran Rp 8-10 ribu, lalu penumpang membayar Rp 2.500 per kilometer.
Jika pengemudi di Pulau Jawa menerima order sejauh 10 km, nilai perjalanannya setidaknya mencapai Rp 35 ribu. Dari jumlah tersebut, Rp 32.200 akan masuk ke kantong mitra driver dengan skema potongan baru.
Skema ini menunjukkan bahwa perubahan porsi bagi hasil tidak hanya terasa pada order besar. Perjalanan jarak menengah juga memberi tambahan pendapatan bersih yang lebih tinggi bagi pengemudi.
Respons dari komunitas pengemudi
Ketua Umum Garda Indonesia, Raden Igun Wicaksono, menilai regulasi ini sebagai bentuk keberpihakan negara terhadap pengemudi ojol. Ia menyebut potongan 8 persen jauh lebih rendah dibanding permintaan awal yang diperjuangkan komunitas pengemudi.
Sebelumnya, asosiasi Garda dan para pengemudi memperjuangkan skema potongan maksimal 10 persen. Igun menilai angka 8 persen bahkan melampaui tuntutan awal asosiasi dan para driver.
Ia juga menyebut keputusan itu mencerminkan keberanian politik sekaligus sensitivitas sosial pemerintah dalam merespons aspirasi akar rumput. Menurut Igun, ini merupakan kemenangan kolektif yang menyangkut keadilan dalam ekonomi digital yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Meski begitu, ia mengingatkan bahwa pekerjaan belum selesai setelah aturan diumumkan. Implementasi kebijakan ini harus dikawal ketat agar platform digital benar-benar patuh.
Pengawasan dinilai penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem antara perusahaan aplikasi dan pengemudi. Dengan begitu, perubahan skema bagi hasil tidak berhenti di atas kertas, tetapi benar-benar terasa di lapangan.
