Semen Merah Putih memilih jalur yang berbeda di tengah tekanan overcapacity yang masih membayangi industri semen nasional. Alih-alih hanya bertumpu pada volume produksi, perusahaan lewat PT Cemindo Gemilang Tbk menempatkan efisiensi dan keberlanjutan sebagai inti strategi untuk menjaga daya saing sekaligus membuka akses ke pasar yang lebih luas.
Langkah itu muncul saat pasar domestik justru belum pulih sepenuhnya. Utilisasi produksi semen nasional masih berada di sekitar 51%, sementara permintaan pada 2025 turun sekitar 2%–2,5% seiring melambatnya proyek infrastruktur dan belum pulihnya dinamika ekonomi.
Di kondisi seperti ini, persaingan tidak lagi ditentukan oleh siapa yang paling besar kapasitasnya. Surindro Kalbu Adi, Commercial & Logistic Director PT Cemindo Gemilang Tbk, menegaskan bahwa kekuatan industri kini bergeser ke efektivitas sistem yang dibangun, bukan semata ukuran pabrik.
Efisiensi menjadi strategi utama
Semen Merah Putih mengembangkan model bisnis yang menghubungkan produksi, logistik, dan pengelolaan emisi dalam satu rangkaian kerja. Pendekatan ini membuat sustainability tidak berhenti sebagai isu lingkungan, tetapi menjadi bagian dari cara perusahaan mempertahankan kinerja bisnis.
Dari penguatan itu, intensitas karbon perusahaan turun sekitar 21% sejak 2016. Penurunan tersebut berjalan seiring efisiensi energi dan optimalisasi proses produksi yang terus diperbaiki di dalam sistem operasional.
Salah satu teknologi yang dimanfaatkan adalah Waste Heat Recovery System atau WHRS. Sistem ini menyumbang sekitar 24% kebutuhan energi dalam produksi klinker dan membantu menekan emisi hingga sekitar 100.000 ton CO2.
Efisiensi juga terlihat dari konsumsi listrik yang turun hingga sekitar 3 KWh per ton klinker. Di sisi distribusi, penggunaan kendaraan listrik dalam operasional logistik turut mengurangi emisi sekitar 8.500 ton CO2 per tahun.
Portofolio produk bergerak ke arah rendah karbon
Perubahan strategi tidak hanya terjadi di lini produksi, tetapi juga merambah komposisi produk. Saat ini, sekitar 81% produk Semen Merah Putih merupakan non-OPC atau Ordinary Portland Cement, lebih tinggi dibandingkan rata-rata industri yang berada di kisaran 71%.
Pergeseran itu mendapat respons pasar yang terus mencari material konstruksi yang lebih efisien dan lebih ramah lingkungan. Salah satu contoh yang menonjol adalah hydraulic cement, yang mencatat pertumbuhan hingga 636,5% pada 2025.
Seluruh produk Semen Merah Putih telah mengantongi Green Label dari Green Product Council Indonesia. Sebagian besar di antaranya juga berada di level platinum, yang memperkuat posisi perusahaan di tengah perubahan preferensi pasar.
Pengakuan eksternal juga ikut mendukung arah tersebut. Perusahaan menerima apresiasi dari World Cement Association atas komitmen aksi iklim dan meraih Sustainable Construction Material Award dalam ARCH:ID 2025.
Daya saing nasional dan jalan ekspor
Di dalam negeri, Semen Merah Putih memiliki kapasitas produksi sekitar 11,4 juta ton semen dan 7 juta ton klinker per tahun. Perseroan juga memiliki kapasitas tambahan di Vietnam sebesar 5 juta ton semen dan 3,2 juta ton klinker.
Kapasitas itu memberi ruang untuk melayani pasar domestik sekaligus memperluas jangkauan ekspor. Melalui dukungan unit bisnis trading Aastar, jaringan ekspor perusahaan kini menjangkau Asia Pasifik, Oseania, Afrika, hingga Amerika.
Samar Gurung, Head of Trading Aastar Trading, menyebut pasar global kini tidak hanya menilai harga. Menurutnya, permintaan dunia semakin mengarah pada produk dengan profil keberlanjutan yang jelas, bukan sekadar yang paling murah.
Ia juga menekankan bahwa sistem rantai pasok yang terintegrasi membuat perusahaan lebih lincah menjawab kebutuhan pasar domestik dan internasional. Fleksibilitas ini penting karena distribusi semen dan klinker memerlukan pasokan yang andal, efisiensi logistik, serta kemampuan menyesuaikan bentuk pengiriman, baik curah maupun kemasan.
Persaingan yang berubah arah
Dengan pasar domestik yang masih tertekan, keberlanjutan kini menjadi bagian dari rancangan bisnis, bukan pelengkap. Bagi Semen Merah Putih, sustainability dipakai untuk menjaga efisiensi operasional, kestabilan pasokan, dan ruang ekspansi ke pasar yang lebih luas.
Perusahaan menargetkan pertumbuhan hingga dua kali lipat dari pertumbuhan pasar pada 2026 dengan bertumpu pada inovasi berbasis sustainability dan penguatan peran sebagai mitra strategis pembangunan nasional serta pasar regional. Di tengah overcapacity yang terus menekan industri, kombinasi efisiensi produksi, portofolio rendah karbon, dan ekspansi ekspor menunjukkan arah baru persaingan semen nasional.
Source: mediaindonesia.com