Enam Pekerja Sosial Tewas di Stade, Sengketa Hak Asuh Berakhir dalam Penembakan Brutal

Author: Redaksi Android62

Enam pekerja sosial tewas dalam penembakan brutal di sebuah rumah aman khusus ibu dan anak di Stade, Jerman Utara. Bayi perempuan pelaku yang berusia tiga bulan dilaporkan selamat dari insiden yang mengguncang fasilitas perlindungan tersebut.

Peristiwa itu terjadi saat seorang pria berusia 45 tahun datang ke lokasi sesuai jadwal pertemuan yang telah disepakati. Aparat menyebut ia kemudian melepaskan tembakan di dalam gedung, sehingga situasi berubah menjadi kepanikan dalam hitungan saat.

Kondisi di lokasi kejadian

Penembakan berlangsung di shelter yang tidak jauh dari kota pelabuhan Hamburg. Menurut laporan Reuters, suara tembakan terdengar pada tengah hari ketika para staf tidak sempat menghindar.

Lima korban meninggal di lokasi akibat luka tembak yang sangat parah. Satu korban lainnya sempat dibawa ke rumah sakit, tetapi kemudian dinyatakan meninggal oleh tim medis.

Penahanan dan penyisiran aparat

Pihak berwenang bergerak cepat setelah kejadian dan menahan pria yang diduga sebagai pelaku utama. Polisi juga mengamankan ibu bayi pelaku dan seorang perempuan lain dalam rangkaian penangkapan yang dilakukan di jalan.

Sebuah rekaman media memperlihatkan petugas mengepung mobil dengan ban kempis sebelum membekuk dua orang di dalamnya. Setelah situasi terkendali, polisi memastikan tidak ada ancaman lanjutan bagi warga di sekitar lokasi.

Aparat kemudian mengisolasi area kejadian yang berada di kawasan perumahan bata merah dengan jalanan berbatu. Tim forensik berpakaian putih dan detektif berpakaian sipil dikerahkan untuk mengumpulkan bukti di tempat kejadian perkara.

Polisi sempat mengeluarkan peringatan agar masyarakat menjauhi zona bahaya demi mencegah korban tambahan. Langkah itu diambil karena ketegangan masih tinggi sebelum situasi dinyatakan aman.

Reaksi pemerintah dan latar penyelidikan

Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier mengecam keras penembakan tersebut. Ia menyoroti kerasnya kekerasan yang terjadi di tempat yang semestinya memberi perlindungan bagi orang-orang yang membutuhkan.

“Saya sangat terkejut dengan tingkat kekerasan di tempat yang seharusnya memberikan perlindungan,” kata Steinmeier. Pernyataan itu memperkuat sorotan terhadap kerentanan pusat-pusat perlindungan sosial ketika konflik pribadi berubah menjadi kekerasan mematikan.

Berdasarkan penyelidikan awal, terduga pelaku utama diketahui lahir di Jerman, memiliki garis keturunan Turki, dan tinggal di wilayah Hannover. Penyelidikan masih berfokus pada hubungan antara pelaku dan sengketa hak asuh anak yang diduga melatarbelakangi serangan tersebut.

Kasus penembakan massal tergolong langka di Jerman dibandingkan dengan Amerika Serikat. Namun, negara itu pernah diguncang serangan serupa ketika seorang pria bersenjata membunuh enam jemaat di aula Saksi Yehuwa Hamburg, dan sebelumnya pada 2016 seorang remaja berdarah Jerman-Iran menewaskan sembilan orang di Munich.

Source: www.suara.com
Berita Terbaru