Fatimah Azzahra Soroti MBG, Kritiknya Memicu Perdebatan soal Prioritas Negara

Author: Redaksi Android62

Fatimah Azzahra kembali menjadi perhatian setelah pernyataannya dalam diskusi soal Program Makan Bergizi Gratis atau MBG memicu perdebatan luas. Wakil Ketua BEM UI periode 2026 itu menilai pemerintah seharusnya lebih dulu membereskan akses pendidikan dan infrastruktur dasar sebelum menjalankan program tambahan.

Pandangan itu membuat namanya ramai dibicarakan di media sosial, terutama karena ia menyoroti persoalan yang menurutnya lebih mendesak di daerah tertinggal. Kritiknya juga dianggap menyentuh inti perdebatan tentang arah prioritas pembangunan nasional.

Perdebatan soal kebutuhan dasar

Dalam forum tersebut, Fatimah mencontohkan masih adanya anak-anak yang sulit pergi ke sekolah karena jalan rusak, jarak tempuh yang jauh, dan fasilitas pendidikan yang terbatas. Ia menilai hambatan seperti itu merupakan masalah yang perlu diselesaikan lebih dulu.

Ia juga menegaskan bahwa kebutuhan dasar dan standar pelayanan publik semestinya dipenuhi terlebih dahulu agar program tambahan dapat berjalan efektif. Menurutnya, persoalan akses ke sekolah tidak kalah penting dibanding upaya memenuhi kebutuhan makan anak.

Argumen itu muncul setelah Bahtra Banong, Juru Bicara Partai Gerindra, menjelaskan bahwa MBG tidak semata ditujukan untuk mengatasi stunting atau kekurangan gizi anak. Ia menyebut program tersebut juga memberi dampak ekonomi karena melibatkan petani, peternak, nelayan, serta pelaku UMKM dalam rantai pasok pangan.

Bahtra turut menyinggung kondisi anak-anak di wilayah kepulauan yang masih berangkat ke sekolah dalam keadaan lapar. Menurutnya, pemenuhan gizi lewat MBG bisa membantu mereka belajar lebih baik.

Siapa Fatimah Azzahra

Fatimah Azzahra merupakan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang menempuh pendidikan program Sarjana Kedokteran UI sejak Juli 2023 hingga 2027. Sebelum menjabat sebagai Wakil Ketua BEM UI 2026, ia sudah aktif di sejumlah organisasi kemahasiswaan tingkat fakultas dan universitas.

Pada 2025, Fatimah menjabat sebagai Kepala Komisi II di Dewan Perwakilan Mahasiswa Universitas Indonesia. Dalam posisi itu, ia terlibat dalam penyusunan mekanisme fit and proper test, pembentukan panitia khusus, dan penguatan praktik demokrasi di kalangan mahasiswa.

Ia juga pernah tampil sebagai orator dalam kegiatan yang diselenggarakan Dewan Guru Besar FKUI bersama BEM FKUI pada 2025. Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan orasi budaya yang merefleksikan dinamika profesi medis dan kebijakan kesehatan nasional dari sudut pandang mahasiswa kedokteran.

Pengalaman organisasinya berlanjut saat ia dipercaya menjadi Ketua Community of Neuroscience and Psychiatry atau CORE FKUI pada 2024. Di organisasi itu, ia terlibat dalam pengembangan kurikulum internal, sistem kaderisasi, dan proses seleksi anggota.

Pada tahun yang sama, Fatimah juga menjabat sebagai Project Officer kegiatan bakti sosial yang diselenggarakan FSI FKUI. Ia memimpin koordinasi program pelayanan masyarakat, mulai dari pemeriksaan kesehatan hingga distribusi bantuan sosial.

Prestasi akademik dan sorotan lain

Di luar aktivitas organisasi, Fatimah memiliki catatan prestasi akademik. Pada Mei 2025, ia bersama tim risetnya meraih Juara 1 dalam kompetisi penelitian nasional The 17th Liver Update.

Sorotan terhadap Fatimah tidak berhenti pada diskusi MBG. Setelah terpilih sebagai Wakil Ketua BEM UI 2026 bersama Ketua BEM UI Yatalathof Ma’shum Imawan, keduanya sempat mengalami teror dan ancaman.

Teror itu mulai terjadi pada 14 Januari 2026. Bentuk intimidasi yang diterima antara lain pengiriman paket COD berupa topeng senilai Rp1,8 juta, gunting rumput, dan kursi roda.

Ancaman tersebut juga disebut menyasar sejumlah mahasiswa pendukung pasangan pimpinan BEM UI itu. Mereka dilaporkan menerima paket misterius berisi benda mencurigakan, termasuk kain kafan.

Peristiwa itu memicu perhatian karena dinilai sebagai bentuk intimidasi terhadap kebebasan berorganisasi dan aktivitas demokrasi di kampus. Meski begitu, Fatimah tetap menjalankan perannya di BEM UI.

Kini, nama Fatimah Azzahra kembali mencuat karena kritiknya terhadap prioritas Program MBG. Sosoknya menonjol bukan hanya sebagai mahasiswa kedokteran, tetapi juga sebagai aktivis kampus dengan rekam jejak organisasi yang panjang di Universitas Indonesia.

Source: www.suara.com
Berita Terbaru