GAPMMI Desak Kepastian Kemasan Plastik, Ketahanan Industri Pangan Diuji Saat Jalur Pasok Dunia Terganggu

Author: Redaksi Android62

Bagi industri makanan dan minuman, pasokan kemasan plastik kini dipandang sebagai salah satu faktor paling krusial untuk menjaga produksi tetap berjalan stabil. GAPMMI menilai langkah Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam memperkuat ketersediaan kemasan sangat penting, terutama saat rantai pasok global masih bertekanan dan situasi geopolitik belum sepenuhnya pasti.

Ketua Umum GAPMMI Adhi S. Lukman menegaskan bahwa kemasan plastik bukan sekadar perlengkapan teknis. Dalam pandangan pelaku industri, bahan tersebut ikut menentukan mutu produk, keamanan pangan, dan kelancaran barang saat didistribusikan ke berbagai daerah di Indonesia.

Kemasan ikut menjaga stabilitas produksi

Kemasan memiliki peran langsung dalam menjaga masa simpan produk. Jika pasokannya terganggu, risiko kerusakan barang bisa meningkat dan proses distribusi menjadi kurang efisien.

Kondisi itu tidak hanya menyulitkan produsen, tetapi juga dapat menekan stabilitas produksi pangan secara keseluruhan. Bagi sektor makanan dan minuman, gangguan kecil pada rantai pasok kemasan dapat berdampak luas karena produk harus tetap aman saat dikirim, disimpan, dan dijual.

Karena itu, GAPMMI memandang pertemuan strategis Kementerian Perindustrian dengan pelaku industri hulu petrokimia hingga hilir sebagai langkah yang patut dicatat. Pertemuan itu dinilai menunjukkan upaya pemerintah menyambungkan rantai pasok dari bahan baku sampai produk akhir, sehingga industri tidak berjalan sendiri-sendiri.

IKM lebih rentan saat pasokan tidak pasti

Tekanan terhadap industri kecil dan menengah menjadi perhatian tersendiri. GAPMMI menilai kelompok usaha ini lebih cepat merasakan dampak ketika harga berubah dan bahan baku sulit diperoleh.

Saat pasokan kemasan tidak menentu, pelaku IKM harus menghadapi tekanan biaya yang biasanya lebih cepat terasa dibanding perusahaan yang memiliki cadangan bahan baku atau daya tawar lebih besar. Dalam situasi seperti itu, jaminan pasokan disebut penting agar keberlanjutan usaha tetap terjaga.

Ketersediaan kemasan yang lancar juga dinilai bisa membantu menahan laju kenaikan biaya produksi. Hal ini dianggap penting agar produk pangan tetap kompetitif tanpa mengurangi kualitas yang menjadi standar utama industri.

Waktu pengiriman bahan baku ikut melonjak

Di tengah gejolak logistik global, GAPMMI mencatat adanya perubahan besar pada waktu pengiriman bahan baku. Rata-rata pengiriman yang sebelumnya sekitar 15 hari disebut naik menjadi sekitar 50 hari.

Perpanjangan waktu kirim itu membuat pelaku industri mendorong evaluasi terhadap kebijakan atau regulasi yang bisa dilonggarkan dalam kondisi luar biasa. Seruan tersebut muncul agar beban industri tidak makin berat ketika jalur pasok belum kembali normal.

GAPMMI juga menilai penyesuaian semacam itu dapat membantu menjaga keterjangkauan harga produk makanan dan minuman bagi konsumen. Meski begitu, kualitas dan keamanan produk tetap disebut sebagai prioritas yang tidak bisa ditawar.

Dorongan pada kemandirian petrokimia nasional

Selain membahas pasokan jangka pendek, GAPMMI juga menyatakan dukungan terhadap visi Menperin untuk memperkuat kemandirian industri petrokimia nasional. Arah ini dinilai sejalan dengan kebutuhan diversifikasi sumber bahan baku kemasan plastik agar ketergantungan pada impor dapat berkurang.

Bagi GAPMMI, ketahanan industri tidak hanya ditentukan oleh pabrik pengolahan di hilir. Kepastian dari hulu, termasuk pasokan bahan baku petrokimia, ikut menentukan apakah industri makanan dan minuman dapat terus berjalan stabil saat pasar global bergejolak.

Karena itu, kolaborasi antara pemerintah dan pelaku industri diharapkan terus diperkuat. Sektor makanan dan minuman masih dipandang penting sebagai penopang pertumbuhan ekonomi sekaligus bagian dari ketahanan pangan Indonesia.

Source: mediaindonesia.com
Berita Terbaru