Ketegangan di sekitar Selat Hormuz kembali menjadi pusat perhatian setelah Iran menegaskan militernya dalam kondisi siaga penuh. Di saat yang sama, Korps Garda Revolusi Iran menilai peluang perang baru dengan Amerika Serikat masih kecil karena lawannya dianggap sedang lemah.
Mohammad Akbarzadeh, wakil kepala politik Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam, menyampaikan bahwa Iran tetap menempatkan angkatan bersenjatanya dalam kesiapan penuh. Ia juga memberi sinyal bahwa Teheran tidak akan ragu membalas keras jika serangan benar-benar terjadi.
Sinyal keras dari Teheran
Pernyataan Akbarzadeh memperlihatkan upaya Iran menjaga daya gentar di tengah situasi yang belum stabil. Ia mengatakan Iran tidak akan tinggal diam bila agresi kembali dilancarkan, dan menyebut wilayah dari Chabahar hingga Mahshahr dapat menjadi sasaran balasan keras bagi pihak penyerang.
Nada serupa juga muncul dari pejabat Iran lainnya yang menekankan bahwa kesiapan militer tetap menjadi unsur utama dalam membaca arah konflik berikutnya. Bagi Teheran, pesan itu penting untuk menunjukkan bahwa rendahnya peluang perang bukan berarti kewaspadaan dikendurkan.
Gencatan senjata yang rapuh
Meski gencatan senjata berlaku sejak April, ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat belum benar-benar mereda. Kedua pihak masih saling menuduh, sementara pembicaraan yang dimediasi Pakistan belum menghasilkan titik temu.
Beberapa isu besar masih menggantung, termasuk Selat Hormuz dan program nuklir Iran. Kondisi diplomasi memang belum tertutup, tetapi ruangnya rapuh karena masing-masing pihak masih mengandalkan tekanan.
Hormuz dan energi dunia tetap rentan
Selat Hormuz kembali disebut sebagai titik paling sensitif dalam perseteruan ini. Iran sebelumnya dilaporkan sempat memblokade jalur perdagangan energi itu sebagai respons atas konflik, lalu Amerika Serikat membalas dengan blokade terhadap pelabuhan Iran.
Rangkaian tindakan tersebut membuat eskalasi meluas dari ranah militer ke jalur ekonomi strategis. Karena itu, setiap perkembangan di Hormuz langsung memengaruhi kekhawatiran pasar energi global.
Laporan serangan dan balasan terus bermunculan
Di lapangan, laporan dari kedua pihak tetap bertolak belakang. Media Iran melaporkan ledakan di Bandar Abbas, kota pelabuhan yang dekat dengan Selat Hormuz, sementara Garda Revolusi menyatakan telah menembak jatuh drone AS yang masuk wilayah udara Iran dan menjatuhkan pesawat tempur F-35.
Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan negara itu tidak akan membiarkan apa yang disebutnya tindakan jahat tanpa balasan. Sebaliknya, Komando Pusat AS atau Centcom mengatakan pasukannya melakukan serangan pertahanan diri di Iran selatan untuk melindungi personel dari ancaman militer Iran.
Dampak meluas ke kawasan
Ketegangan tidak berhenti di Iran dan Amerika Serikat. Di Lebanon, serangan Israel dilaporkan menewaskan 31 orang, termasuk empat anak-anak, menurut Kementerian Kesehatan Lebanon.
Perkembangan itu menambah beban kawasan yang sudah terguncang oleh rangkaian konflik lintas front. Perang di kawasan itu disebut pecah sejak akhir Februari akibat serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran, dan dampaknya ikut mengganggu stabilitas regional serta pasar energi global.
Peringatan dari para pemimpin dan respons pasar
Dari sisi Iran, Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei menyebut pengaruh Amerika Serikat di Timur Tengah semakin melemah. Ia juga memperingatkan negara-negara kawasan agar tidak menjadi tempat bagi pangkalan militer AS.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio masih menilai kesepakatan damai mungkin tercapai. Namun ia menegaskan Selat Hormuz akan dibuka kembali “dengan cara apa pun”, yang menunjukkan jalur energi strategis itu tetap menjadi titik panas utama dalam perseteruan kedua negara.
Pasar saham global pada Rabu bergerak bervariasi karena pelaku pasar masih melihat peluang yang terbatas bagi tercapainya kesepakatan damai. Setiap pernyataan dari Teheran maupun Washington kini langsung memengaruhi sentimen pasar.
