Di Balik Lawu Ada Candi, Warung Tertinggi, dan Tradisi Sakral yang Tetap Hidup

Author: Redaksi Android62

Gunung Lawu masih berstatus aktif dan menyimpan jejak vulkanik yang belum sepenuhnya padam. Meski lama tidak menunjukkan erupsi magmatik, gunung di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah ini tetap memiliki potensi erupsi kembali karena masih memperlihatkan gejala vulkanik seperti solfatara yang mengeluarkan gas belerang.

Dengan ketinggian 3.256 meter di atas permukaan laut, Lawu menjadi salah satu gunung tertinggi di Pulau Jawa. Statusnya sebagai gunung api tipe B membuat keberadaannya tetap perlu diperhatikan, terlebih catatan erupsi terakhirnya tercatat pada 28 November 1885.

Tiga puncak yang membentuk karakter Lawu

Lawu dikenal memiliki tiga puncak utama, yakni Hargo Dalem, Hargo Dumiling, dan Hargo Dumilah. Titik tertinggi berada di Hargo Dumilah, yang ditandai tugu triangulasi dan kerap menjadi lokasi favorit para pendaki untuk berfoto.

Susunan tiga puncak itu memberi Lawu karakter yang berbeda dibanding banyak gunung lain di Jawa. Bagi pendaki, perjalanan ke Lawu bukan hanya soal mencapai ketinggian, tetapi juga merasakan suasana khas di kawasan puncaknya.

Warisan sejarah di kaki gunung

Di kaki Gunung Lawu berdiri dua kompleks candi yang erat dengan sejarah Jawa, yaitu Candi Sukuh di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, serta Candi Cetho di Dusun Ceto, Desa Gubeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar. Keduanya diyakini dibangun pada masa akhir Majapahit dan sama-sama memiliki bentuk teras berundak.

Candi Cetho juga dikenal sebagai salah satu jalur pendakian menuju Lawu. Dalam satu kawasan, jejak sejarah dan aktivitas pendakian bertemu tanpa saling terpisah.

Warung tertinggi yang menjadi tujuan singgah

Nama Gunung Lawu juga lekat dengan Warung Mbok Yem, yang dikenal sebagai warung tertinggi di Indonesia. Warung ini berdiri sejak 1980-an dan selama bertahun-tahun menjadi tempat singgah pendaki yang ingin beristirahat setelah perjalanan panjang.

Warung tersebut menjual teh, kopi, nasi pecel, mi instan, hingga aneka gorengan. Sosok Mbok Yem dikenang para pendaki karena kerap memberi semangat, meski ia telah meninggal dunia pada 23 April 2025.

Ruang sakral dan kisah yang terus menyertai

Selain sejarah dan jalur pendakian, Lawu juga identik dengan ruang-ruang sakral. Di puncaknya terdapat Gua Inten dan Gua Slarong, sementara sejumlah lokasi lain yang sering disebut adalah Jolotundo, Khayangan, puncak Hargo Tiling dan Hargo Purso, Sendang Macan, Sambernyowo, Sendang Celeng, Lumbung Selayur, Gupak Menjangan, Sendang Drajat, dan Sabdo Palon.

Tradisi Suro masih dikaitkan dengan kawasan ini, terutama pada malam 1 Suro atau 1 Muharram ketika sebagian masyarakat Jawa melakukan ritual tertentu di kawasan puncak Gunung Lawu. Reputasinya sebagai gunung angker juga diperkuat oleh cerita tentang pasar setan setiap malam Jumat yang terus hidup di tengah masyarakat.

Source: www.beautynesia.id
Berita Terbaru