Harga minyak dunia langsung tertekan setelah Iran menyatakan Selat Hormuz kembali terbuka penuh untuk seluruh lalu lintas komersial. Reaksi pasar berlangsung cepat karena jalur itu selama ini dianggap sangat penting bagi arus pengiriman energi global.
Minyak mentah Brent tercatat turun lebih dari 11 persen hingga berada di sekitar US$88 per barel di London. Penurunan tajam ini terjadi segera setelah pengumuman tersebut dan menghapus sebagian kenaikan harga yang sempat terbentuk sejak konflik pecah pada akhir Februari lalu, menurut laporan Bloomberg News.
Selat strategis itu kembali dibuka
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan jalur pelayaran tersebut kini “sepenuhnya terbuka” selama sisa masa gencatan senjata di Lebanon. Ia juga menyebut pembukaan dilakukan lewat rute yang sudah dikoordinasikan dengan otoritas pelabuhan dan maritim Iran.
Koordinasi itu ditujukan agar kapal-kapal komersial dapat melintas dengan lebih aman. Dengan begitu, aktivitas pengiriman di salah satu jalur tersibuk bagi perdagangan energi dunia kembali memperoleh kepastian untuk sementara waktu.
Dampaknya langsung terasa di pasar energi
Bagi pelaku pasar, kabar terbukanya Selat Hormuz berarti risiko gangguan pasokan dinilai menurun, setidaknya untuk sementara. Karena jalur ini memegang peran vital dalam distribusi energi, setiap perubahan status di kawasan tersebut hampir selalu memicu reaksi cepat pada harga minyak.
Situasi itu membuat kekhawatiran atas potensi kelangkaan pasokan mereda. Namun, arah harga tetap bergantung pada perkembangan keamanan di kawasan, sebab pasar masih sensitif terhadap kemungkinan memburuknya keadaan.
Terkait erat dengan gencatan senjata Lebanon
Keputusan Iran juga dikaitkan dengan kesepakatan gencatan senjata di Lebanon yang melibatkan Hizbullah dan militer Israel. Pernyataan Abbas Araghchi menunjukkan bahwa pembukaan selat tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari dinamika diplomatik yang lebih luas di Timur Tengah.
Iran mengambil langkah tersebut di tengah proses negosiasi yang berlangsung sepanjang pekan dengan Amerika Serikat melalui mediator Pakistan. Proses itu masih berjalan mendekati berakhirnya masa gencatan senjata pada 21 April 2026.
Respons Washington ikut memperkuat sentimen
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyambut kebijakan Teheran itu dengan nada positif. Melalui media sosial, Trump menulis bahwa jalur tersebut “SEPENUHNYA TERBUKA DAN SIAP UNTUK LALU LINTAS PENUH”.
Pernyataan itu ikut memperkuat keyakinan pasar bahwa situasi di Selat Hormuz memasuki fase yang lebih stabil. Meski begitu, pelaku pasar tetap mencermati apakah kondisi tersebut dapat bertahan setelah masa gencatan senjata berakhir.
Mengapa pasar begitu peka terhadap Selat Hormuz
Selat Hormuz memiliki posisi penting karena menjadi jalur strategis bagi kapal-kapal niaga yang mengangkut energi. Saat jalur ini terbuka penuh dan pengawasan keamanan berjalan sesuai koordinasi, tekanan terhadap harga minyak cenderung mereda.
Sebaliknya, bila muncul gangguan atau ketegangan baru, sentimen pasar biasanya berubah cepat. Karena itu, pembukaan kembali selat ini menjadi penanda penting bagi industri energi global bahwa risiko pasokan untuk sementara menurun, meski ketidakpastian di kawasan belum sepenuhnya hilang.
