Harga Minyak Dan Pangan Terancam Naik, IMF Siapkan Skenario Terburuk Untuk Ekonomi Dunia

Author: Redaksi Android62
Add on Google

Dana Moneter Internasional atau IMF melihat perang Iran sebagai salah satu ancaman paling cepat yang dapat menekan ekonomi dunia. Lembaga itu menilai gangguan yang terus berlanjut berpotensi mengerek harga energi, mengganggu pasokan pangan, dan membuat tekanan inflasi semakin sulit diredam di banyak negara.

Perhatian terbesar IMF tertuju pada jalur energi internasional yang sangat sensitif terhadap ketegangan di Timur Tengah. Selat Hormuz menjadi titik penting karena sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia melintas di sana, sehingga gangguan kecil saja dapat langsung terasa di pasar global.

Kenaikan harga energi biasanya tidak berhenti di sektor bahan bakar. Biaya untuk rumah tangga, industri, dan transportasi dapat ikut naik, lalu mendorong inflasi di berbagai negara saat banyak bank sentral masih harus menjaga keseimbangan antara harga dan pertumbuhan.

IMF menilai skenario dasar ekonomi dunia sudah menunjukkan perlambatan. Dalam proyeksi World Economic Outlook, pertumbuhan global sebelumnya diperkirakan turun menjadi 3,1 persen, tetapi konflik yang berkepanjangan dapat menyeretnya lebih rendah dari perkiraan itu.

Lembaga tersebut juga menyiapkan gambaran yang lebih berat. Jika harga minyak tetap tinggi dalam waktu lama, ekspektasi inflasi menjadi kurang stabil, dan pasar keuangan semakin tertekan, pertumbuhan ekonomi global bisa melambat hingga 2,5 persen.

Juru bicara utama IMF, Julie Kozack, mengatakan, “Kami sedang bergerak menuju skenario buruk tersebut.” Meski begitu, ia menambahkan bahwa ekspektasi inflasi masih relatif terkendali dan kondisi keuangan dunia masih akomodatif.

Ancaman lain datang dari sektor pangan. IMF menyoroti gangguan pasokan pupuk yang dapat menekan pertanian dan memperburuk ketahanan pangan global, terutama karena blokade yang terjadi telah menghentikan sepertiga pasokan pupuk dunia.

Dampaknya tidak selalu muncul seketika, tetapi dapat bertahan lebih lama. Kozack menjelaskan bahwa secara historis, kenaikan harga pupuk biasanya membutuhkan waktu sekitar enam bulan sebelum memicu kenaikan harga pangan, penurunan hasil panen, dan masalah ketahanan pangan.

Untuk skenario yang lebih ekstrem, IMF menghitung pertumbuhan ekonomi global bisa turun hingga 2,0 persen. Dalam kondisi itu, inflasi juga berpotensi melonjak sampai enam persen, menandakan tekanan yang jauh lebih luas terhadap ekonomi dunia.

Pembaruan data World Economic Outlook dijadwalkan dirilis pada Juli mendatang. Pembaruan ini akan menjadi acuan penting untuk melihat apakah tekanan dari konflik masih bisa diredam atau justru semakin meluas ke berbagai pasar.

Di sisi lain, IMF juga mengantisipasi kemungkinan bertambahnya negara yang memerlukan dukungan. Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menyebut sebanyak 12 negara mungkin membutuhkan bantuan keuangan dari lembaga itu.

Total kebutuhan bantuan tersebut diperkirakan berada di kisaran US$20 miliar hingga US$50 miliar. IMF saat ini masih berdiskusi aktif dengan negara-negara anggota mengenai kebutuhan kebijakan dan dukungan finansial yang diperlukan, meski identitas negara yang terlibat belum dibuka.

Rangkaian peringatan ini menunjukkan bahwa perang Iran tidak hanya berisiko mengganggu satu pasar tertentu. Energi, pangan, inflasi, dan pembiayaan negara sama-sama berada dalam posisi rentan ketika konflik terus berlarut dan harga minyak tetap tinggi.

Source: mediaindonesia.com
Disclaimer
Artikel ini disusun dengan bantuan sistem otomasi dan ditinjau oleh redaksi agar tetap sesuai dengan fakta dari sumber rujukan.
Berita Terbaru