Harga Minyak Melonjak Usai Serangan AS ke Iran, Jalur Hormuz Kembali Paling Rentan

Author: Redaksi Android62

Harga minyak dunia langsung bereaksi keras setelah Amerika Serikat kembali melancarkan serangan udara ke wilayah Iran. Lonjakan itu menunjukkan betapa cepat pasar energi membaca setiap eskalasi militer sebagai ancaman nyata bagi pasokan global.

Minyak mentah acuan Brent naik 3,75 persen menjadi USD 97,83 per barel. Sementara itu, minyak mentah pasar AS menguat 4 persen ke level USD 92,22 per barel.

Selat Hormuz kembali jadi titik paling sensitif

Perhatian pasar kini kembali tertuju ke Selat Hormuz. Jalur sempit itu memegang peran vital karena sekitar seperlima pasokan minyak dunia dan LNG biasanya melintas di perairan tersebut.

Komando Pusat AS atau Centcom mengatakan pasukannya membidik fasilitas militer strategis di Bandar Abbas. Centcom juga menyebut telah menembak jatuh empat drone Iran yang dinilai mengancam di sekitar Selat Hormuz.

Setiap gangguan di jalur itu langsung berimbas pada biaya logistik global. Jika pelayaran tersendat, kapal harus mengambil rute lebih jauh dan ongkos distribusi ikut naik.

Pasar energi menimbang risiko yang lebih luas

Kenaikan harga minyak terjadi ketika pasar energi masih dibayangi ketidakpastian. Kondisi ini membuat kekhawatiran terhadap stabilitas harga ikut menguat, terutama saat pemulihan inflasi global belum benar-benar solid.

Bagi pelaku pasar, serangan terbaru ini menambah lapisan risiko baru. Ancaman terhadap pasokan energi dan jalur pengiriman membuat volatilitas harga berpeluang bertahan lebih lama.

Situasi tersebut juga memperlihatkan bahwa pasar tidak hanya merespons jumlah pasokan. Kemungkinan terganggunya rute distribusi sering kali bergerak lebih cepat daripada perubahan fisik di lapangan.

Gencatan senjata yang makin rapuh

Langkah militer AS itu ikut memperburuk situasi diplomatik yang sebelumnya sempat bergerak ke arah penurunan ketegangan. Washington dan Tehran sempat menyepakati gencatan senjata sementara untuk membuka ruang dialog, tetapi arah pembicaraan kembali rapuh setelah serangan terbaru terjadi.

Ketegangan ini muncul di tengah proses negosiasi aktif untuk mengakhiri perselisihan yang sudah berlangsung selama tiga bulan. Di sisi lain, operasi gabungan sebelumnya yang diinisiasi militer Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari masih menyisakan dampak besar bagi hubungan kedua negara.

Iran merespons keras serangan-serangan tersebut dan melontarkan ancaman pembalasan. Tehran menyatakan akan menyerang setiap kapal komersial maupun militer yang nekat melintasi rute pelayaran strategis itu.

Ancaman yang terus membayangi perdagangan energi

Dengan Selat Hormuz kembali disorot, kawasan itu dipandang sebagai titik paling rawan dalam perdagangan energi internasional. Gangguan sekecil apa pun di area tersebut dapat segera mengguncang harga pasar dalam hitungan jam.

Karena itu, perhatian investor dan pelaku perdagangan kini tertuju pada perkembangan militer dan diplomatik di Timur Tengah. Selama ancaman terhadap jalur pelayaran dan pasokan minyak belum mereda, harga energi dunia masih berpeluang bergerak liar.

Source: www.suara.com
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru