Harga RON 92 Menanjak ke Rp20 Ribuan, Pertamina Waspadai Stok BBM Tertekan

Author: Redaksi Android62

Pertamina Patra Niaga menyoroti lonjakan harga RON 92 di pasar dunia yang kini berada di kisaran Rp20 ribu hingga Rp21 ribuan per liter. Kondisi itu dinilai ikut menekan ruang gerak harga BBM non-subsidi di dalam negeri, terutama untuk produk seperti Pertamax.

VP Commercial & Shipping Business Development Pertamina Patra Niaga, Sigit Setiawan, mengatakan tekanan harga itu sudah terlihat sejak satu sampai dua bulan sebelumnya. Situasi kemudian makin berat setelah konflik di Timur Tengah memanas dan memengaruhi pasar energi global.

Batas atas Pertamax terus bergeser

Pergerakan harga tersebut tercermin pada batas atas harga Pertamax yang naik bertahap dalam beberapa bulan terakhir. Pada Maret, batas atasnya masih berada di level Rp12.397 per liter.

Memasuki April, angka itu melonjak menjadi Rp18.745 per liter berdasarkan Harga Indeks Pasar dan kurs, sesuai formula harga BBM jenis bahan bakar umum. Pada Mei, batas atas Pertamax kembali naik menjadi Rp20.157 per liter.

Kenaikan berlanjut pada Juni ketika batas atas tersebut mencapai Rp20.942 per liter. Deretan angka ini memperlihatkan bahwa harga keekonomian Pertamax sudah mendekati level harga RON 92 di pasar dunia.

Sigit menjelaskan bahwa konflik geopolitik yang berlangsung sejak akhir Februari memberi dampak langsung pada formula harga BBM JBU pada April. Menurut dia, kenaikan batas atas pada periode itu berkisar Rp6.300 sampai Rp7.300 per liter untuk solar dan Rp10.800 sampai Rp10.930 per liter untuk bensin.

Harga sempat ditahan, lalu berisiko mengganggu pasokan

Di tengah kenaikan formula harga tersebut, Pertamina sempat menahan harga Pertamax di level Rp12.300 per liter. Kebijakan itu dipertahankan saat batas atas harga terus bergerak naik dari April hingga Juni.

Sigit mengakui penyesuaian harga akhirnya harus dilakukan untuk menjaga ketersediaan stok BBM. Jika harga tidak ikut disesuaikan, selisih antara pendapatan dan pengeluaran akan membebani kemampuan impor perusahaan.

Dalam kondisi seperti itu, Pertamina berisiko tidak dapat mengimpor BBM dengan volume yang sama seperti sebelumnya. Dampaknya bisa merembet ke ketersediaan stok BBM di pasar domestik dan menekan pasokan energi untuk masyarakat.

Risiko tersebut menjadi lebih serius ketika permintaan berada di puncaknya. Karena itu, penyesuaian harga diposisikan sebagai langkah untuk menjaga kesinambungan pasokan agar gangguan stok tidak berkembang menjadi persoalan yang lebih luas.

Gambaran regional menunjukkan tekanan yang sama

Pertamina juga menyinggung kondisi di Thailand sebagai pembanding. Di negara itu, bensin RON 91 dan RON 92 ke konsumen akhir disebut berada di kisaran Rp23 ribu jika dikonversi ke rupiah.

Perbandingan tersebut menunjukkan bahwa lonjakan harga RON 92 bukan hanya terjadi di Indonesia. Tekanan itu merupakan bagian dari dinamika pasar energi regional dan global yang sama-sama terdampak situasi geopolitik.

Karena RON 92 bukan BBM bersubsidi, harga internasional menjadi faktor yang sangat menentukan. Saat harga pasar global naik tajam, ruang untuk menahan harga di dalam negeri ikut menyempit dan biaya impor menjadi semakin berat.

Dengan kondisi harga dunia yang sudah berada di kisaran Rp20 ribu sampai Rp21 ribuan per liter, tantangan Pertamina tidak hanya berhenti pada harga jual. Perusahaan juga harus memastikan pasokan tetap tersedia di tengah biaya impor yang terus meningkat.

Source: otodriver.com
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru