Studi POSEIDON menunjukkan bahwa inflamasi kardiovaskular masih ditemukan pada dua dari lima pasien dengan penyakit kardiovaskular aterosklerotik, penyakit ginjal kronis, dan gagal jantung. Temuan ini menegaskan bahwa risiko residual masih bertahan meski banyak pasien sudah menerima terapi sesuai standar perawatan.
Dalam studi real-world evidence berskala global itu, inflamasi kardiovaskular diukur melalui high-sensitivity C-reactive protein atau hsCRP dengan ambang ≥2 mg/L. Pemeriksaan darah tersebut menjadi salah satu metode yang paling umum dan luas tersedia untuk menilai adanya inflamasi pada pembuluh darah.
Risiko yang tidak selalu tampak dari gejala
Inflamasi kardiovaskular merupakan peradangan pada pembuluh darah yang berbeda dari peradangan akibat infeksi. Kondisi ini kerap tidak menimbulkan keluhan, tetapi dapat meningkatkan risiko serangan jantung dan stroke bila berlangsung lama.
Karena sering tidak bergejala, inflamasi dapat luput dari perhatian dalam penanganan penyakit kardiovaskular. Padahal, beban penyakit kardiovaskular di Indonesia masih besar dan terus menuntut pengendalian risiko yang lebih menyeluruh.
Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyebut penyakit kardiovaskular menyumbang 30 persen kematian di Indonesia. Stroke dan penyakit jantung iskemik masih menjadi penyebab utama kematian di dalamnya.
Temuan dari 18 negara
POSEIDON melibatkan 18.904 pasien dari 18 negara di Eropa, Amerika Utara, Amerika Selatan, dan Asia-Pasifik. Dari jumlah itu, 13.475 pasien mengalami penyakit kardiovaskular aterosklerotik.
Di kelompok tersebut, 5.757 pasien atau 42,7 persen juga memiliki penyakit ginjal kronis. Sementara itu, kelompok gagal jantung dalam studi ini mencapai 11.809 pasien dan mencakup seluruh spektrum gagal jantung, mulai dari fraksi ejeksi yang dipertahankan, sedikit menurun, hingga menurun.
| Kelompok Pasien | Jumlah | Catatan |
|---|---|---|
| Penyakit kardiovaskular aterosklerotik | 13.475 | Bagian dari 18.904 pasien |
| Dengan penyakit ginjal kronis | 5.757 | 42,7 persen dari kelompok aterosklerotik |
| Gagal jantung | 11.809 | Mencakup seluruh spektrum gagal jantung |
Inflamasi dan risiko residual
Analisis POSEIDON menyoroti adanya kesenjangan dalam tata laksana penyakit kardiovaskular. Meski pasien telah mendapat terapi sesuai pedoman klinis untuk menekan faktor risiko utama seperti kolesterol, tekanan darah, dan gula darah, risiko yang dipicu inflamasi masih bertahan.
Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa pasien dengan inflamasi kardiovaskular memiliki risiko lebih tinggi mengalami kejadian kardiovaskular mayor, termasuk serangan jantung, stroke, dan kematian akibat penyakit kardiovaskular. Pada penyakit ginjal kronis, inflamasi dapat mendorong progresivitas CKD, sementara CKD sendiri juga bisa memicu inflamasi.
Pada gagal jantung, inflamasi dilaporkan umum ditemukan di seluruh tipe, terutama pada pasien dengan obesitas, penyakit ginjal, dan gangguan metabolik lainnya. Kondisi itu membuat penilaian risiko menjadi lebih kompleks daripada sekadar melihat faktor klasik.
Pandangan peneliti dan arah pedoman
Filip Knop, Senior Vice President dan Chief Medical Officer Novo Nordisk, menegaskan bahwa inflamasi kardiovaskular tetap menjadi sumber risiko signifikan pada pasien dengan penyakit kardiovaskular aterosklerotik, penyakit ginjal kronis, dan gagal jantung. Ia menilai pemahaman atas cakupan risiko inflamasi penting untuk mendukung riset inovasi terapi yang menjawab kebutuhan medis yang belum terpenuhi.
Profesor Carolyn S.P. Lam dari National Heart Centre Singapore juga menilai inflamasi bukan sekadar isu tambahan. Menurut dia, temuan POSEIDON menunjukkan peluang untuk mengidentifikasi pasien yang paling mungkin memperoleh manfaat dari terapi yang secara langsung menargetkan inflamasi.
Perhatian terhadap inflamasi kini mulai masuk dalam pedoman klinis terbaru dari European Society of Cardiology, American Heart Association, dan American College of Cardiology. Pedoman itu memasukkan peningkatan kadar hsCRP sebagai biomarker yang dapat membantu memodifikasi penilaian risiko dan menentukan kebutuhan strategi pencegahan yang lebih intensif.
Temuan ini memperkuat bahwa pengelolaan penyakit kardiovaskular tidak cukup hanya berfokus pada faktor risiko klasik. Pada banyak pasien, inflamasi tetap menjadi pemicu risiko residual yang perlu dikenali lebih awal agar penanganan dapat dilakukan lebih komprehensif dan berkelanjutan.
Source: lifestyle.bisnis.com






