Investasi China US$2,5 Miliar Dibahas, Fasilitas Batam Diminta Setara KEK

Author: Redaksi Android62

Pemerintah Indonesia membahas peluang investasi China senilai US$2,5 miliar yang berkaitan dengan pengembangan industri dan kebutuhan fasilitas bagi perusahaan di Batam. Isu utamanya adalah permintaan sejumlah perusahaan China di luar Kawasan Ekonomi Khusus agar memperoleh fasilitas yang setara dengan pelaku usaha di dalam KEK.

Pembahasan itu berlangsung saat Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto bertemu Menteri Perdagangan China Wang Wentao di Shanghai pada Jumat, 17 Juli 2026 malam. Pertemuan tersebut juga menjadi ruang evaluasi kerja sama industri, perdagangan, serta sektor digital Indonesia dan China.

Fasilitas Batam Menjadi Perhatian

Perkembangan kawasan industri Batam menjadi salah satu pokok pembicaraan dalam agenda tersebut. Pemerintah menyoroti kebutuhan kepastian fasilitas bagi perusahaan China yang telah beroperasi di luar kawasan KEK.

Airlangga turut membahas tindak lanjut nota kesepahaman bernilai US$2,5 miliar yang telah ditandatangani sebelumnya. Kesepahaman itu terkait konsep two countries twin park antara Kementerian Perdagangan dan Kemenko Perekonomian.

Konsep tersebut membuka jalur kolaborasi kawasan industri antara Indonesia dan China. Batam menjadi salah satu lokasi yang mendapat perhatian karena keberadaan kegiatan industri serta investasi dari perusahaan China.

Mitra Nilai Perdagangan 2025 Investasi di Indonesia
China US$167,48 miliar US$7,58 miliar
Hong Kong Sekitar US$6 miliar US$10,1 miliar
China dan Hong Kong Sekitar US$173 miliar Sekitar US$18 miliar

Nilai Perdagangan dan Arus Modal

China tetap menjadi salah satu mitra ekonomi utama Indonesia dengan nilai perdagangan bilateral yang besar. Nilai perdagangan kedua negara pada 2025 tercatat US$167,48 miliar, sementara ekspor Indonesia meningkat 16,7 persen.

Hong Kong juga memberi kontribusi besar terhadap arus modal dari kawasan China. Jika digabungkan, investasi dari China dan Hong Kong pada 2025 menjadikan keduanya sebagai sumber investasi asing terbesar bagi Indonesia.

Data investasi menunjukkan China menanamkan modal US$7,58 miliar di Indonesia. Nilai investasi dari Hong Kong mencapai US$10,1 miliar, sehingga totalnya berada di kisaran US$18 miliar.

Kerja Sama AI dan Infrastruktur Digital

Selain agenda perdagangan dan industri, Airlangga bertemu Huawei dan ByteDance pada hari yang sama. Pembicaraan dengan dua perusahaan itu mencakup kecerdasan buatan atau AI, infrastruktur digital, investasi teknologi, serta pengembangan sumber daya manusia digital.

Dengan Huawei, pemerintah membahas investasi infrastruktur AI dan komputasi awan, penguatan talenta digital, serta keamanan siber. Agenda lainnya mencakup digitalisasi pemerintah dan UMKM, juga solusi energi hijau untuk pusat data.

Dalam keterangan yang dikutip VIVA, Airlangga mengatakan, “Setelah Indonesia secara resmi menjadi salah satu negara pendiri WAICO, kami ingin memastikan adanya lompatan nyata dalam kerja sama teknologi.” Ia menilai Huawei berpotensi menjadi mitra strategis melalui kapabilitasnya di bidang AI, telekomunikasi, dan komputasi awan.

Pemerintah juga mengapresiasi investasi serta komitmen jangka panjang ByteDance di Indonesia, terutama melalui Tokopedia dan TikTok Shop. Kehadiran perusahaan itu dinilai memperkuat perdagangan digital dan memperluas peluang UMKM dalam perdagangan lintas batas.

Airlangga mengundang ByteDance menjajaki kolaborasi AI, termasuk model bahasa besar, pembelajaran mesin, dan AI generatif. Peluang kerja samanya mencakup pembentukan pusat riset AI, pengembangan talenta digital, serta inovasi bagi kedua negara.

Setelah rangkaian agenda tersebut, Airlangga dijadwalkan bertemu Menteri Luar Negeri China Wang Yi di Shanghai pada Sabtu, 18 Juli 2026. Pertemuan lanjutan itu berlangsung di tengah perhatian kedua negara terhadap kerja sama ekonomi, industri, dan teknologi.

Source: www.viva.co.id
Berita Terbaru