Danantara mengarahkan Waskita Karya untuk menjadikan bisnis jalan tol sebagai salah satu penopang pertumbuhan jangka panjang. Namun, pengembangan tersebut hanya dapat berjalan jika kondisi keuangan perusahaan lebih sehat dan kewajibannya mampu dipenuhi secara mandiri.
Arah baru itu dibahas dalam pertemuan antara Kepala BP BUMN yang juga Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, dengan jajaran direksi Waskita. Pembahasan tidak berhenti pada penyelesaian tekanan saat ini, melainkan pada pembentukan fondasi usaha yang lebih kuat.
Ambisi Menjadi Perusahaan Tol Kedua
Pengelolaan jalan tol dipandang memiliki karakter pendapatan jangka panjang yang dapat memberi dasar usaha lebih stabil bagi Waskita. Posisi tersebut membuka peluang bagi perusahaan untuk memperkuat fokus bisnis di luar penyelesaian persoalan keuangan yang sedang berjalan.
Dony Oskaria menilai Waskita dapat mengambil posisi sebagai perusahaan tol kedua setelah Jasa Marga. “Waskita jadi perusahaan tol kedua setelah Jasa Marga, itu tidak apa-apa asal dihitung dengan benar,” ujar Dony melalui akun Instagram resmi BP BUMN.
Pernyataan itu menegaskan bahwa penguasaan aset tidak dengan sendirinya menjamin keberlanjutan bisnis. Setiap ekspansi perlu didukung perhitungan yang cermat, proyeksi yang realistis, serta kemampuan menghasilkan nilai tambah secara berkelanjutan.
Danantara juga menempatkan model bisnis sebagai bagian penting dari penataan ulang perusahaan. Model yang dipilih harus selaras dengan kemampuan Waskita menjaga arus pendapatan dan memenuhi kebutuhan keuangannya dalam jangka panjang.
Valuasi Aset dan Arus Kas Diperiksa
Dalam proses pembahasan, manajemen Waskita dan Danantara menelaah valuasi aset, struktur utang, serta kemampuan perusahaan membayar kewajiban. Proyeksi arus kas turut menjadi perhatian karena menentukan daya tahan rencana bisnis yang akan dijalankan.
Penilaian atas aset dan kewajiban diperlukan agar langkah restrukturisasi tidak dibangun atas asumsi yang lemah. Perusahaan perlu memiliki dasar keuangan yang cukup untuk menopang strategi usaha tanpa bergantung pada penyelesaian sementara.
Liputan6.com melaporkan, kesehatan keuangan Waskita perlu dipastikan sebelum pengembangan bisnis dilanjutkan lebih jauh. Kondisi tersebut dinilai penting agar perusahaan dapat memenuhi kewajibannya sendiri dan memperkuat kepercayaan para pemangku kepentingan.
Keuangan yang lebih kuat juga berpotensi membuka akses pendanaan, termasuk melalui pasar modal. Akan tetapi, peluang pendanaan itu ditempatkan sebagai hasil dari penyehatan perusahaan, bukan pengganti perbaikan struktur bisnis dan kewajiban yang ada.
Restrukturisasi Bukan Penundaan Masalah
BP BUMN bersama Danantara akan terus mengawal restrukturisasi Waskita agar prosesnya tidak hanya menunda penyelesaian kewajiban. Pengawalan tersebut diarahkan pada transformasi menyeluruh dengan fokus usaha yang lebih jelas dan tata kelola yang lebih baik.
Restrukturisasi diharapkan memperkuat struktur keuangan sekaligus meningkatkan daya saing perusahaan. Target akhirnya adalah Waskita yang mampu tumbuh sehat tanpa kembali menghadapi persoalan serupa pada masa mendatang.
Setiap langkah pengembangan bisnis jalan tol harus disusun secara terukur dan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan dasar itu, bisnis tol dapat menjadi salah satu tumpuan baru bagi Waskita sambil kemampuan memenuhi kewajiban terus diperkuat.
