Presiden Prabowo Subianto menyatakan Indonesia tidak akan lagi mengimpor solar dari luar negeri mulai Juli. Pernyataan itu ia kaitkan dengan penerapan Biodiesel B50, bahan bakar yang mengandung campuran 50 persen minyak sawit.
Menurut Prabowo, penghentian impor tersebut dimaksudkan agar dana yang sebelumnya keluar untuk membeli solar dapat beredar di dalam negeri. Ia menilai kebijakan itu berpotensi memberi manfaat ekonomi lebih besar bagi petani sawit di berbagai wilayah.
“Jadi mulai Juli ini kita tidak akan impor solar lagi dari luar negeri. Lebih baik uang itu beredar di Indonesia, dinikmati petani-petani seluruh Indonesia,” ujar Prabowo.
Kebijakan B50 ditempatkan pemerintah sebagai bagian dari penguatan ketahanan energi nasional. Selain mengandalkan bahan bakar berbasis minyak sawit, pemerintah juga menyiapkan pengembangan etanol untuk campuran bensin.
Arah Program Bahan Bakar Dalam Negeri
| Program Energi | Tahap yang Disebut Pemerintah | Tujuan Utama |
|---|---|---|
| Biodiesel B50 | Campuran 50% minyak sawit | Menghentikan impor solar |
| Bioetanol | Menuju E10 lalu E20 | Campuran bensin dan penguatan energi terbarukan |
Untuk bioetanol, pemerintah sedang mengarahkan penerapan E10 atau campuran 10 persen etanol dalam bensin. Tahap berikutnya adalah meningkatkan campuran tersebut menjadi E20.
Pengembangan itu memerlukan tambahan kapasitas pengolahan di dalam negeri. Prabowo menyebut pemerintah berencana membangun hingga 50 pabrik etanol baru di berbagai daerah untuk mendukung target tersebut.
Langkah pada sektor bahan bakar ini juga dihubungkan dengan agenda proyek energi berskala besar. Salah satunya adalah LNG Abadi Masela di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku, yang disebut mulai dikerjakan setelah tertunda selama 28 tahun.
Dalam laporan Beritasatu, proyek LNG Abadi Masela menjadi salah satu proyek strategis yang disoroti Prabowo. Pemerintah memandang pemanfaatan sumber energi domestik sebagai fondasi penguatan ekonomi untuk jangka panjang.
Pesan Optimisme di Tengah Ketidakpastian
Prabowo menyampaikan arah kebijakan itu saat memimpin panen raya TNI di Lanud Abdulrachman Saleh, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Jumat (17/7/2026). Pada kesempatan tersebut, ia menepis narasi bahwa Indonesia sedang berada di ambang kolaps.
Ia meminta masyarakat tidak terus larut dalam pandangan pesimistis mengenai masa depan nasional. Menurutnya, sejumlah indikator menunjukkan ekonomi Indonesia tetap terjaga meskipun dunia menghadapi ketidakpastian.
Prabowo mengatakan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa telah melaporkan kondisi ekonomi Indonesia berada dalam keadaan baik. Pemerintah, kata dia, memilih melanjutkan pekerjaan dan program pembangunan ketimbang terpaku pada sentimen negatif.
“Jangan membebek kepada kekuatan asing terus. Indonesia jelek, Indonesia apa? Indonesia gelap. Kalau pakai kacamata gelap ya gelap terus,” kata Prabowo.
Ia juga memakai istilah yang dikenal di lingkungan militer untuk menggambarkan sikap pemerintah dalam menghadapi kritik dan tantangan. “Kalau di tentara ada istilah, tinggalkan, beri tanda. Kita jalan terus. Kita bekerja dengan semangat, gembira, semangat optimistis,” ujarnya.
Bagi pemerintah, program B50, pengembangan bioetanol, dan percepatan proyek LNG Abadi Masela merupakan bagian dari upaya memperkuat ketahanan energi. Prabowo menilai kombinasi kebijakan tersebut dapat menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam jangka panjang.
