Presiden Prabowo Subianto langsung memberi sinyal kuat soal arah ekonomi yang ingin digenjot pemerintah lewat hilirisasi. Di Cilacap, Jawa Tengah, ia memulai pembangunan 13 proyek hilirisasi strategis nasional fase kedua dengan nilai investasi sekitar Rp 116 triliun.
Langkah itu menempatkan hilirisasi bukan sebagai agenda pelengkap, melainkan sebagai salah satu tumpuan utama untuk memperkuat kemandirian ekonomi nasional. Pemerintah menaruh harapan besar agar nilai tambah dari bahan mentah bisa lebih banyak diproses di dalam negeri.
Tiga sektor utama menjadi penopang
Rangkaian 13 proyek tersebut dikelola melalui BPI Danantara dan dibagi ke dalam tiga kelompok besar. Komposisinya terdiri dari lima proyek di sektor energi, lima proyek di sektor mineral dan tambang, serta tiga proyek di sektor pertanian.
Pembagian ini menunjukkan bahwa hilirisasi tidak diarahkan hanya ke satu bidang tertentu. Pemerintah memilih memperluas basis industrialisasi pada sektor-sektor yang selama ini menjadi penopang sumber daya nasional.
Di sektor energi, proyek hilirisasi diarahkan untuk membantu penguatan struktur industri yang berkaitan dengan kebutuhan energi nasional. Sementara di sektor mineral dan tambang, agenda ini menjaga peran besar komoditas tambang dalam rantai pasok industri.
Adapun sektor pertanian ditujukan untuk memperkuat pengolahan komoditas agar memiliki nilai jual yang lebih tinggi. Pola ini sejalan dengan dorongan agar manfaat ekonomi tidak berhenti di hulu.
Sinyal prioritas dari Istana
Prabowo menyebut peletakan batu pertama itu sebagai momen bersejarah dan membanggakan. Ia menilai fase kedua hilirisasi mencerminkan keseriusan negara dalam mendorong transformasi ekonomi berbasis nilai tambah.
Dalam sambutannya, Prabowo menyampaikan bahwa proyek tersebut mencakup 13 proyek strategis hilirisasi senilai kurang lebih Rp 116 triliun. Ia juga merinci kembali pembagiannya, yakni lima proyek di sektor energi, lima di sektor mineral, dan tiga di sektor pertanian.
Pelaksanaan langsung oleh presiden memberi pesan bahwa hilirisasi berada di jalur prioritas nasional. Pemerintah memosisikannya sebagai instrumen untuk mempercepat perubahan struktur ekonomi di dalam negeri.
Dengan nilai investasi sebesar itu, fase kedua hilirisasi juga membuka ruang penguatan ekonomi dari sektor-sektor yang selama ini lebih banyak mengekspor bahan mentah. Arah kebijakannya jelas, yaitu mendorong pengolahan lebih lanjut agar manfaat ekonomi lebih besar tetap tinggal di Indonesia.
Bukan program yang berdiri sendiri
Prabowo juga menekankan bahwa hilirisasi bukan program yang muncul tiba-tiba. Menurutnya, proyek ini merupakan proses panjang yang memerlukan persiapan matang dan pondasi kebijakan yang kuat.
Ia menyinggung kesinambungan kepemimpinan dari presiden pertama hingga presiden ke-7 sebagai bagian dari dasar yang menopang kebijakan saat ini. Dari situ, hilirisasi digambarkan sebagai agenda lintas masa pemerintahan.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa tahap kedua hilirisasi diposisikan sebagai kelanjutan dari kebijakan industrialisasi yang sudah dibangun sebelumnya. Karena itu, 13 proyek tersebut tidak hanya dipandang sebagai proyek baru, tetapi juga bagian dari rangkaian panjang pembangunan ekonomi nasional.
Pemerintah kini menempatkan hilirisasi sebagai strategi untuk memperkuat industri dalam negeri secara menyeluruh. Di tengah investasi jumbo dan keterlibatan tiga sektor utama, langkah ini menjadi penanda bahwa agenda kemandirian ekonomi sedang didorong ke fase yang lebih konkret.
