Iran Masih Simpan 70 Persen Rudal dan Peluncur, Selat Hormuz Tetap Dalam Ancaman

Author: Redaksi Android62

Penilaian intelijen Amerika Serikat yang sebelumnya dirahasiakan menempatkan Iran dalam posisi yang masih jauh dari lumpuh. Dari pembacaan itu, Teheran disebut masih menyimpan sebagian besar kekuatan rudalnya, termasuk jaringan peluncuran yang tetap aktif di banyak titik penting.

Temuan tersebut langsung memberi bobot baru pada perhitungan keamanan di Timur Tengah. Selat Hormuz pun kembali tampil sebagai titik paling rentan, karena setiap lonjakan ketegangan dapat segera berdampak ke jalur energi global dan ruang diplomasi yang sudah sempit.

Aset rudal Iran belum banyak berubah

The New York Times mengungkap penilaian intelijen awal Mei yang menyebut Iran telah kembali memperoleh akses operasional ke sebagian besar situs rudalnya. Dari 33 lokasi rudal di sepanjang Selat Hormuz, 30 dilaporkan sudah berfungsi lagi.

Sumber yang mengetahui penilaian itu mengatakan Iran masih memiliki sekitar 70 persen persediaan rudal dan peluncur bergerak yang dimilikinya sebelum perang pecah. Gambaran ini menunjukkan kemampuan militer Teheran belum turun sedalam yang selama ini digambarkan dalam pernyataan politik dari Washington.

Laporan itu juga menyebut hampir 90 persen fasilitas penyimpanan dan peluncuran rudal bawah tanah di berbagai wilayah Iran kini berada dalam kondisi sebagian atau sepenuhnya beroperasi. Artinya, Iran masih memegang ruang manuver militer yang besar jika ketegangan dengan Amerika Serikat dan Israel kembali meningkat.

Washington masih memandang Iran sebagai ancaman

Gedung Putih tidak menunjukkan perubahan sikap setelah temuan itu beredar. Juru bicara Gedung Putih, Olivia Wales, mengatakan pemerintah Iran memahami bahwa “realitas saat ini tidak berkelanjutan.”

Ia juga menyindir pihak yang menilai Iran sudah membangun kembali militernya sebagai orang yang delusional atau juru bicara bagi Korps Garda Revolusi Islam. Nada itu memperlihatkan Washington tetap menempatkan Iran sebagai ancaman serius, meski kondisi di lapangan tidak sepenuhnya sejalan dengan klaim bahwa kemampuan militernya sudah lumpuh.

Perbedaan antara bahasa politik dan penilaian intelijen menjadi sorotan utama. Bagi pembuat kebijakan di Amerika Serikat, fakta bahwa banyak aset rudal Iran masih aktif berarti kalkulasi keamanan kawasan belum banyak bergeser.

Hormuz tetap jadi titik paling sensitif

Ketegangan yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel ikut membuat Selat Hormuz tetap rapuh. Jalur itu punya posisi strategis besar bagi arus energi dunia, sehingga setiap gangguan di sana dapat cepat merambat ke pasar dan keamanan regional.

Kondisi ini tidak lepas dari rangkaian benturan yang terjadi setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari. Serangan itu memicu balasan dari Teheran terhadap Israel dan sekutu AS di kawasan Teluk, sekaligus berkontribusi pada penutupan Selat Hormuz yang mengguncang stabilitas energi global.

Di tengah situasi seperti itu, keberadaan kekuatan rudal Iran yang masih besar membuat kawasan tetap berada dalam keadaan waspada. Selama jalur laut tersebut belum benar-benar aman, ancaman eskalasi akan terus membayangi.

Diplomasi belum menghasilkan terobosan

Upaya meredakan konflik sejauh ini belum memberi hasil yang kuat. Gencatan senjata selama dua pekan mulai berlaku pada 8 April melalui mediasi Pakistan, tetapi pembicaraan lanjutan di Islamabad gagal menghasilkan kesepakatan jangka panjang.

Presiden Donald Trump kemudian memperpanjang masa gencatan senjata tanpa batas waktu yang jelas. Pakistan masih berupaya menghidupkan kembali jalur diplomasi, namun upaya itu belum menghasilkan terobosan yang meyakinkan.

Hambatan baru muncul ketika Trump menolak respons terbaru Iran terhadap proposal Washington untuk mengakhiri perang secara permanen. Presiden AS itu menyebut tanggapan Teheran sama sekali tidak dapat diterima, yang kembali memperlihatkan jarak besar antara kedua pihak.

Selama kebuntuan itu berlanjut, temuan intelijen tentang kapasitas rudal Iran menjadi pengingat bahwa krisis belum selesai. Selat Hormuz tetap berada dalam posisi rentan, sementara peluang dialog antara Washington dan Teheran masih mudah terganggu oleh eskalasi baru.

Source: mediaindonesia.com
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru