Iran Tak Akan Tunduk Pada Tekanan Amerika, Pezeshkian Tegaskan Dialog Harus Tanpa Ancaman

Author: Redaksi Android62

Pernyataan keras dari Presiden Iran Masoud Pezeshkian menjadi penanda bahwa Teheran tidak berniat menerima tekanan dari Washington sebagai dasar perundingan. Ia menanggapi secara langsung desakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang meminta Iran menyerah dengan simbol “bendera putih”, dan memilih membalasnya lewat pesan yang sangat tegas.

Dalam unggahan di X, Pezeshkian menulis bahwa umat Islam hanya menyerah kepada Allah Yang Maha Kuasa dan tidak kepada siapa pun. Kalimat itu memperjelas posisi Iran bahwa ancaman politik maupun militer tidak akan diperlakukan sebagai jalan untuk memaksa penyerahan.

Sikap tersebut juga dibawa Pezeshkian ke pembicaraan dengan perdana menteri Irak yang ditunjuk, Ali Faleh al-Zaydi. Ia menegaskan dialog tidak akan berarti bila berlangsung di bawah tekanan, sekaligus meminta Amerika Serikat menghapus ancaman militer dari kawasan.

Bagi Pezeshkian, stabilitas hanya mungkin tercapai jika kebijakan koersif dihentikan. Ia juga menilai hak-hak Iran harus dihormati agar pembicaraan dapat bergerak ke arah yang benar.

Tolak negosiasi di bawah intimidasi

Pezeshkian memandang ancaman kekuatan tidak seharusnya dijadikan alat diplomasi. Ia menilai pengikut mazhab Syiah tidak bisa dipaksa dengan kekerasan, sehingga garis antara perundingan dan intimidasi harus jelas.

Pandangan itu membuat Teheran terlihat berusaha menjaga ruang diplomasi tanpa mengalah pada tekanan luar. Iran ingin tetap membuka pembicaraan, tetapi menolak format apa pun yang dimulai dengan ancaman.

Pezeshkian juga membaca sikap Washington sebagai sesuatu yang bertolak belakang. Di satu sisi, AS disebut menerapkan tekanan maksimum terhadap Iran, tetapi di sisi lain masih mengharapkan hasil negosiasi yang bermakna.

Teguran untuk komentar Trump

Trump sebelumnya meremehkan kemampuan militer Iran dan menyebut Teheran seharusnya mengibarkan bendera putih. Ia juga mengatakan militer Iran hanya mampu menembakkan “senjata mainan” dan menilai Iran sebenarnya ingin mencapai kesepakatan.

Selain itu, Trump memuji blokade AS terhadap pelabuhan Iran di wilayah tersebut. Ia juga menyebut Iran tahu apa yang tidak boleh dilakukan jika ingin menghindari eskalasi lebih lanjut.

Pezeshkian melihat komentar-komentar seperti itu justru memperlihatkan kontradiksi dalam pendekatan Washington. Menurutnya, tekanan maksimum tidak bisa berjalan seiring dengan harapan agar perundingan menghasilkan sesuatu yang serius.

Pesan ke kawasan

Di tengah ketegangan dengan Amerika Serikat, Pezeshkian tetap mengirim sinyal yang lebih luas kepada negara-negara di sekitarnya. Ia memberi ucapan selamat kepada perdana menteri baru di Irak dan mendoakan keberhasilan pembentukan pemerintahan berikutnya.

Ia juga menegaskan bahwa Iran tidak menginginkan konflik dengan negara tetangga. Pemerintahannya disebut mendukung kerja sama regional dan penyelesaian perbedaan melalui dialog, termasuk soal yang berkaitan dengan Teluk Persia.

Sikap itu menunjukkan bahwa Teheran ingin memisahkan hubungan regional dari tekanan yang datang dari Washington. Bagi Pezeshkian, konflik yang terus dipelihara hanya akan memperburuk keadaan kawasan, sehingga ancaman militer perlu dihapus jika stabilitas jangka panjang ingin dicapai.

Source: www.viva.co.id
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru