Iron Beam Naik ke Pesawat, Pertahanan Laser Israel Makin Sulit Diabaikan

Author: Redaksi Android62

Israel kini mendorong Iron Beam keluar dari ranah pertahanan darat dan membawanya ke platform udara. Langkah ini membuka peluang baru bagi sistem laser berdaya tinggi itu untuk menghadang drone, rudal, dan mortir dengan biaya yang jauh lebih rendah dibanding pertahanan udara berbasis rudal.

Elbit Systems menyebut perusahaan telah menerima kontrak untuk menerapkan sistem berbasis laser tersebut di berbagai platform udara. Dalam presentasi hasil tahunannya, sang CEO mengatakan penggunaan Iron Beam akan diperluas ke pesawat dan helikopter.

Perluasan yang sudah lebih dulu diuji

Gagasan membawa Iron Beam ke udara bukan hal yang benar-benar baru. Pada 2021, teknologi ini sudah didemonstrasikan di pesawat turboprop Cessna bermesin tunggal dan mampu mencegat beberapa UAV selama pengujian.

Di versi yang saat ini digunakan, Iron Beam dipasang dalam unit bergerak seukuran kontainer. Konsep ini dirancang untuk menghadapi gelombang drone murah, termasuk yang dibuat cepat atau bersifat improvisasi, yang makin sering muncul dalam konflik modern.

Kenapa versi udara dianggap lebih menarik

Daya tarik utama Iron Beam tetap ada pada biaya operasionalnya yang lebih rendah dibanding pertahanan udara tradisional. Sistem konvensional biasanya mengandalkan rudal atau meriam berkecepatan tinggi, yang jauh lebih mahal saat dipakai melawan drone berbiaya rendah.

Masalah pada laser darat juga cukup jelas. Gangguan atmosfer, termasuk suhu udara dan kerapatan udara, dapat memengaruhi laser dengan bukaan besar sehingga daya serang menurun pada jarak tertentu.

Iron Beam menempuh pendekatan berbeda dengan memakai ratusan sinar laser seukuran koin yang diarahkan oleh sistem penargetan termal. Saat sinar-sinar itu bergerak ke target, sistem mencari tanda hit positif sebelum seluruh sinar kecil dialihkan untuk berkumpul di satu titik dan memusatkan energi hingga target hancur.

Keuntungan tambahan di pesawat dan helikopter

Elbit dan Rafael telah memasarkan ide pemasangan Iron Beam pada jet tempur F-15 dan helikopter UH-60. Dalam skema itu, laser tidak hanya dipakai untuk mencegat drone, tetapi juga memberi perlindungan mandiri bagi pesawat dari roket dan rudal yang datang.

Pemasangan di platform udara juga memberi keuntungan teknis karena jangkauan efektif laser dapat meluas dan kebutuhan daya bisa turun untuk menghasilkan efek yang setara dengan sistem darat. Konsep ini membuat laser tempur lebih fleksibel untuk misi pertahanan yang bergerak dan cepat berubah.

Perkembangan senjata laser di negara lain

Pengembangan senjata laser bertenaga tinggi tidak hanya berlangsung di Israel. Angkatan Laut AS pernah menguji HELIOS buatan Lockheed Martin di atas USS Preble, sementara Angkatan Laut Kerajaan Inggris baru-baru ini mengumumkan kesepakatan untuk melengkapi setiap kapal perusak Type 45 dengan senjata laser DragonFire.

Di Amerika Serikat, upaya menuju senjata laser udara juga sudah lama berjalan. Program Boeing YAL-1 menjadi contoh paling terkenal, yaitu pesawat uji berbasis Boeing 747-400 yang dipasangi laser kimia kelas megawatt untuk mencegat rudal balistik taktis.

Laser itu pertama kali diuji tembak pada 2007 dan berhasil menghancurkan dua rudal uji pada 2010. Namun, biaya pesawat dan sistem lasernya yang sangat tinggi membuat pendanaan akhirnya dipangkas dan program tersebut dihentikan.

Angkatan Udara AS juga pernah menggarap program Self-Protect High Energy Laser Demonstrator atau SHiELD. Program itu sempat menjalani beberapa pengujian, tetapi ditutup tanpa mencapai target operasional.

Saat ini, perhatian Amerika tertuju pada program Next Generation Air Dominance atau NGAD. Jet F-47 yang baru diungkap disebut akan membawa laser pertahanan berdaya tinggi untuk menghancurkan rudal yang mendekat, dengan mesin yang diperkirakan menghasilkan daya listrik beberapa ratus kilowatt.

Berita Terbaru