Di depan Kantor Gubernur Jawa Timur, suara penolakan terhadap upah murah, pajak pesangon, dan outsourcing terdengar paling keras dalam aksi May Day di Surabaya. Ribuan buruh yang datang dari berbagai daerah industri di Jawa Timur memilih memusatkan tekanan langsung ke simbol pemerintahan provinsi di Jalan Pahlawan Nomor 110.
Massa mulai berkumpul sekitar pukul 15.03 WIB dengan seragam serikat masing-masing. Mereka juga membawa poster bernada protes yang menegaskan arah tuntutan, terutama soal pendapatan, perlindungan kerja, dan kebijakan ketenagakerjaan yang dinilai belum berpihak pada buruh.
Tuntutan yang dibawa ke jalan
Sejumlah poster di antara kerumunan menyoroti persoalan yang paling memantik kemarahan pekerja. Tulisan seperti “THR (Tunjangan Hari Raya) itu Hak Buruh, Bukan Hakmu”, “Stop Pajak Pesangon, Rakyat Butuh Makan, Bukan Potongan”, dan “Hapus Outsourcing, Tolak Upah Murah” menjadi penanda jelas bahwa isu penghasilan dan status kerja tetap jadi perhatian utama.
Nada kritik itu juga muncul lewat poster satir yang dibawa sebagian peserta aksi. Ada tulisan “Upah Kini Seperti Nyawamu, Murah!” dan “Buruh Bayar PPh Pakai Keringat, Penguasa Makan Nikmat” yang mempertegas penolakan terhadap kondisi yang mereka anggap memberatkan pekerja.
Wakil Sekretaris DPW FSPMI Provinsi Jawa Timur, Nuruddin Hidayat, menyebut massa lebih dulu melakukan long march dari BG Junction Mall, Jalan Bubutan. Ia mengatakan May Day menjadi agenda tahunan untuk menagih komitmen pemerintah agar tidak berhenti pada janji.
Massa datang dari banyak daerah industri
Aksi di Surabaya ini tidak hanya diikuti buruh dari kota setempat. Mereka datang dari Surabaya, Sidoarjo, Gresik, Pasuruan, Tuban, Probolinggo, Jombang, Jember, Banyuwangi, hingga Lumajang.
Kehadiran peserta dari sejumlah daerah industri itu membuat konsentrasi massa tampak besar di depan kantor gubernur. Dari seragam serikat hingga poster yang diangkat tinggi, aksi tersebut memperlihatkan konsolidasi yang kuat di antara para pekerja.
21 tuntutan yang dibawa buruh Jawa Timur
Dalam peringatan May Day 2026, buruh Jawa Timur membawa 21 tuntutan yang mencakup level nasional dan daerah. Di tingkat nasional, mereka menyoroti penghapusan outsourcing, penolakan upah murah, dan perlindungan pekerja digital.
Di tingkat daerah, tuntutan mereka menekan pemerintah agar lebih konkret menjalankan komitmen yang sudah disuarakan. Beberapa poin yang didorong antara lain penyediaan rumah murah, pengawasan praktik outsourcing, penegakan UMK, dan pembentukan satgas pencegahan PHK.
Aksi ini menjadi bagian dari peringatan Hari Buruh yang menggabungkan simbol protes dengan tekanan politik. Melalui spanduk, poster, dan orasi, massa buruh mendorong agar kebijakan yang dijanjikan benar-benar berpihak pada pekerja.
Di tengah kerumunan besar di depan kantor gubernur, pesan yang paling konsisten tetap soal perlindungan pendapatan dan kepastian kerja. Para buruh berharap pemerintah daerah dan pusat merespons tuntutan itu dengan langkah nyata, bukan sekadar janji yang berulang setiap Hari Buruh.
Source: www.jawapos.com