Jepang untuk pertama kalinya mencatat kondisi panas yang masuk kategori kokushobi, ketika suhu udara mencapai sedikitnya 40 derajat Celsius. Catatan ini memperlihatkan ancaman gelombang panas kini tidak hanya membebani kesehatan warga, tetapi juga mengganggu produksi pangan pokok.
Pada Selasa, 21 Juli 2026, tiga kota di Prefektur Gifu dan Aichi mencapai ambang tersebut. Toyota di Aichi mencatat 40,1 derajat Celsius, sedangkan Gujo dan Tajimi di Gifu juga menembus 40 derajat Celsius atau lebih.
Gujo dan Toyota membukukan suhu tertinggi sepanjang sejarah di stasiun pengamatan cuaca masing-masing. Data yang dilaporkan The Guardian dan dikutip Beritasatu itu menjadi gambaran skala panas ekstrem yang melanda sejumlah wilayah Jepang.
| Kota | Prefektur | Suhu Tercatat | Catatan |
|---|---|---|---|
| Gujo | Gifu | 40 derajat Celsius | Rekor tertinggi di stasiun setempat |
| Tajimi | Gifu | 40 derajat Celsius atau lebih | Mencapai ambang kokushobi |
| Toyota | Aichi | 40,1 derajat Celsius | Rekor tertinggi di stasiun setempat |
Gelombang panas itu tidak terbatas pada tiga kota tersebut. Sebanyak 278 dari 914 stasiun cuaca di Jepang mencatat suhu di atas 35 derajat Celsius pada hari yang sama.
Risiko Serangan Panas Meningkat
Dampak cuaca panas telah dikaitkan dengan kematian di sejumlah daerah. Pada Senin, 20 Juli 2026, seorang pria berusia 40-an ditemukan meninggal di jalan di Kota Sanjo, Prefektur Niigata.
Pada hari yang sama, seorang pria berusia 70-an dilaporkan meninggal di Prefektur Kanagawa, di sebelah barat daya Tokyo. Kedua kasus tersebut diduga berkaitan dengan paparan panas ekstrem.
Tekanan terhadap kesehatan masyarakat telah terlihat dalam catatan beberapa tahun terakhir. Badan Manajemen Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Jepang mencatat kematian akibat serangan panas untuk pertama kalinya melampaui 2.000 kasus pada 2024.
Beban layanan medis juga tetap tinggi pada musim panas berikutnya. Lebih dari 100.000 orang menjalani perawatan rumah sakit akibat dampak panas dari awal Mei hingga akhir September 2025.
Kokushobi Menjadi Penanda Baru
Badan Meteorologi Jepang atau JMA memperkenalkan istilah kokushobi pada April 2026. Sebutan itu digunakan untuk hari ketika suhu udara mencapai atau melampaui 40 derajat Celsius.
Sebelumnya, Jepang memakai istilah moshobi untuk hari dengan suhu maksimum di atas 35 derajat Celsius. Kehadiran kategori baru ini menandai tingkat risiko yang lebih tinggi dibandingkan peringatan panas yang telah digunakan sebelumnya.
Pencatatan kokushobi pertama menunjukkan bahwa ambang panas ekstrem kini telah masuk ke sistem resmi JMA. Istilah tersebut memberi penanda khusus bagi kondisi yang berpotensi memperbesar risiko terhadap warga dan aktivitas ekonomi.
Panen Beras Ikut Tertekan
Sektor pertanian menghadapi dampak langsung dari kenaikan suhu, terutama pada tanaman padi. Produksi serta mutu beras, yang menjadi makanan pokok Jepang, mengalami tekanan ketika cuaca panas berlangsung semakin intens.
Sejumlah petani mulai memperluas penanaman varietas padi yang dinilai lebih tahan terhadap suhu tinggi. Langkah itu menjadi bagian dari penyesuaian terhadap kondisi cuaca yang semakin menantang bagi masa tanam dan panen.
Perubahan juga terlihat pada pilihan komoditas di beberapa area. Alpukat, yang sebelumnya tidak banyak dibudidayakan di Jepang, mulai dipilih sebagian petani sebagai tanaman alternatif.
Catatan suhu 40 derajat Celsius memperlihatkan persoalan panas ekstrem tidak berhenti pada angka di termometer. Dampaknya merambat dari keselamatan warga dan kapasitas rumah sakit hingga ketahanan produksi pangan Jepang.
Source: www.beritasatu.com






