Serangan drone yang memicu kebakaran di sekitar PLTN Barakah kembali menyorot betapa sensitifnya keamanan nuklir di kawasan Teluk. Insiden itu terjadi saat ketegangan Iran, Amerika Serikat, dan Israel masih jauh dari kata stabil, sehingga setiap gangguan di fasilitas strategis langsung memunculkan kekhawatiran baru.
Badan Energi Atom Internasional atau IAEA menyebut kebakaran dipicu serangan drone yang mengenai generator listrik. Salah satu reaktor bahkan sempat memakai generator diesel darurat sebagai langkah pengamanan, meski operasional fasilitas dilaporkan tetap berjalan normal.
Otoritas Uni Emirat Arab menegaskan kebakaran tersebut tidak mengganggu keselamatan nuklir. Tidak ada korban jiwa dan tidak ada kebocoran radiasi, sementara seluruh unit reaktor tetap beroperasi seperti biasa.
Direktur Jenderal IAEA Rafael Mariano Grossi menyampaikan kekhawatiran serius atas insiden itu. IAEA juga menegaskan bahwa aktivitas militer yang mengancam keselamatan nuklir tidak dapat diterima.
PLTN Barakah sendiri punya posisi yang sangat penting bagi Uni Emirat Arab. Pembangkit itu merupakan pembangkit listrik tenaga nuklir pertama dan satu-satunya di dunia Arab, dengan nilai pembangunan sekitar US$ 20 miliar bersama Korea Selatan.
Barakah mulai beroperasi pada 2020 dan menyuplai sekitar seperempat kebutuhan listrik Uni Emirat Arab. Lokasinya yang berada dekat perbatasan Arab Saudi, sekitar 225 kilometer dari Abu Dhabi, membuat setiap insiden di sana segera menjadi perhatian regional.
Serangan terbaru ini juga disebut sebagai yang pertama kali menyasar kompleks empat reaktor Barakah sejak perang kawasan memanas. Hingga kini belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan drone tersebut.
Pemerintah Uni Emirat Arab pun belum secara terbuka menuduh pihak tertentu sebagai pelaku. Namun, sebelumnya Abu Dhabi menuding Iran meluncurkan sejumlah serangan drone dan rudal dalam beberapa hari terakhir di tengah meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz.
Situasi itu ikut memperbesar sorotan pada langkah Amerika Serikat dan Israel. Donald Trump disebut sedang mempertimbangkan kemungkinan dimulainya kembali serangan terhadap Iran bersama Israel, sementara dua sumber yang mengetahui situasi itu mengatakan kedua negara sedang berkoordinasi soal opsi serangan lanjutan jika gencatan senjata gagal bertahan.
Dari pihak Israel, nada kesiagaan juga terlihat jelas. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengatakan negaranya siap menghadapi berbagai kemungkinan terkait Iran, dan menegaskan, “Kami siap untuk skenario apa pun,” dalam rapat kabinet.
Kekhawatiran atas eskalasi makin besar karena Selat Hormuz merupakan jalur vital pengiriman energi dunia. Jika ketegangan di kawasan itu meluas, dampaknya bisa merembet ke stabilitas keamanan regional, termasuk pada fasilitas strategis seperti PLTN Barakah.
Kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran sebelumnya juga pernah mengklaim menargetkan fasilitas itu saat masih dibangun pada 2017. Tuduhan tersebut dibantah Uni Emirat Arab, tetapi insiden terbaru kembali menunjukkan rapuhnya keamanan di titik-titik penting kawasan Teluk.
