Kehamilan di usia 40 tahun ke atas membawa sejumlah risiko kesehatan yang perlu diwaspadai sejak awal. Pada fase ini, diabetes gestasional, hipertensi kehamilan, hingga gangguan jantung bisa muncul dan memerlukan pemantauan lebih ketat.
Central for Human Reproduction menyebutkan bahwa pradiabetes dapat berkembang menjadi diabetes gestasional selama kehamilan. Kondisi itu juga dapat disertai hipertensi yang berujung pada preeklampsia atau eklampsia, serta dekompensasi jantung pada perempuan dengan masalah jantung.
Risiko yang Perlu Dipantau
Selain tiga risiko utama tersebut, perempuan hamil di usia 40-an juga menghadapi kemungkinan kambuhnya penyakit autoimun menjelang akhir kehamilan dan setelah persalinan. Masalah tulang belakang pun dapat memburuk karena hormon kehamilan melonggarkan ligamen.
Akibatnya, nyeri punggung bawah dan gangguan pada cakram tulang belakang bisa terasa lebih berat. Pada sebagian perempuan, kondisi fisik ini menjadi salah satu tantangan yang harus diperhitungkan sebelum dan selama masa kehamilan.
| Risiko | Penjelasan | Dampak |
|---|---|---|
| Diabetes gestasional | Pradiabetes dapat berkembang menjadi diabetes penuh selama kehamilan | Memerlukan pemantauan khusus |
| Hipertensi kehamilan | Hipertensi ambang batas dapat berkembang menjadi preeklampsia atau eklampsia | Meningkatkan risiko komplikasi |
| Masalah jantung | Dekompensasi jantung bisa memicu gagal jantung kongestif | Berisiko mengganggu kondisi ibu |
| Penyakit autoimun | Meski sering membaik saat hamil, kondisi ini berpeluang kambuh di akhir kehamilan dan pascapersalinan | Perlu perhatian pada masa setelah melahirkan |
| Masalah tulang belakang | Hormon kehamilan melonggarkan ligamen dan dapat memperburuk nyeri punggung bawah atau masalah cakram tulang belakang | Keluhan fisik bisa lebih berat |
Jumlah Kehamilan di Usia Matang Turut Naik
Di sejumlah negara maju, kehamilan di usia 40 tahun ke atas semakin sering dibicarakan karena jumlahnya ikut meningkat. Fenomena ini berkaitan dengan banyaknya perempuan yang menunda memiliki anak hingga pendidikan dan karier lebih dulu stabil.
Profesor Jean Yeung, direktur ilmu sosial di Institut Pengembangan dan Potensi Manusia A*STAR, menjelaskan bahwa perempuan kini menghabiskan lebih banyak waktu untuk mengejar pendidikan serta membangun karier sebelum menjadi ibu. Dr. Kalpana Vignehsa dari Institut Studi Kebijakan juga menilai keputusan memiliki anak semakin sering menjadi pilihan yang disengaja dan bersyarat.
Data dari Amerika Serikat dan Singapura
Berdasarkan data yang dilansir dari Center for Human Reproduction, perempuan berusia di atas 40 tahun yang hamil menjadi kelompok usia dengan pertumbuhan anak paling pesat di Amerika Serikat. Tren serupa juga terlihat di negara maju lain dan menandakan pergeseran pola menjadi ibu di usia yang lebih matang.
Di Singapura, data dari Strait Times yang dikutip CNBC Indonesia menunjukkan pada 2025 ada 9,6 bayi lahir per 1.000 perempuan pada kelompok usia 40-44 tahun. Pada kelompok usia 45-49 tahun, angkanya tercatat 0,5 bayi lahir per 1.000 perempuan.
| Kelompok Usia | Angka Kelahiran | Wilayah |
|---|---|---|
| 40-44 tahun | 9,6 bayi per 1.000 perempuan | Singapura |
| 45-49 tahun | 0,5 bayi per 1.000 perempuan | Singapura |
Fenomena ini menunjukkan adanya perubahan besar dalam cara perempuan merencanakan keluarga. Namun, meski keputusan untuk hamil di usia matang kerap lahir dari pertimbangan yang lebih terukur, faktor kesehatan tetap menjadi perhatian utama yang tidak boleh diabaikan.







