Penyelidikan atas kematian Twisha Sharma terus berkembang karena polisi sudah mendaftarkan kasus ini sebagai kematian akibat mas kawin. Namun, arah akhir perkara itu masih belum dipastikan, sebab penyidik masih menelusuri apakah peristiwa tersebut merupakan pembunuhan atau bunuh diri.
Sorotan publik pun semakin besar karena keluarga korban dan keluarga suami memberikan versi yang saling bertolak belakang. Di tengah perbedaan itu, keluarga Twisha menolak kesimpulan awal autopsi yang menyebut kematian terjadi karena gantung diri.
Pesan terakhir dan dugaan tekanan
Kecurigaan keluarga Sharma menguat setelah muncul pesan singkat yang dikirim Twisha sebelum meninggal. Dalam pesan yang dibagikan keluarga kepada media, Twisha menulis, “Hidupku seperti neraka jahanam,” kalimat yang membuat keluarga yakin ada tekanan berat dalam hidupnya.
Keluarga juga menyebut ada luka fisik sebelum kematian yang menurut mereka belum dijawab oleh hasil awal autopsi. Karena itu, mereka menilai kematian Twisha tidak bisa langsung ditutup sebagai bunuh diri tanpa penyelidikan yang lebih menyeluruh.
Twisha ditemukan tak bernyawa di rumah pernikahannya di Bhopal, sekitar lima bulan setelah menikah dengan Samarth Singh, seorang pengacara. Kasus ini lalu melebar menjadi perhatian nasional karena melibatkan dugaan kekerasan dalam rumah tangga dan isu mas kawin yang masih membayangi banyak pernikahan di India.
Pertanyaan dari keluarga korban
Ayah Twisha, Navnidhi Sharma, mempertanyakan mengapa pihak mertua tidak segera menghubungi polisi setelah kejadian. Ia mengatakan malam sebelum kematian putrinya menjadi saat terakhir keluarga berkomunikasi dengan Twisha.
Menurut Navnidhi, telepon Twisha sempat terputus ketika ia berbicara dengan ibunya. Setelah nomor itu tidak bisa dihubungi selama sekitar 20 menit, telepon akhirnya dijawab oleh ibu mertua yang menyampaikan bahwa Twisha sudah meninggal.
Keluarga korban juga menilai respons awal pihak mertua tidak sesuai dengan prosedur yang semestinya dipahami oleh seorang pensiunan hakim. Bagi keluarga Sharma, rangkaian kejadian itu menambah keraguan bahwa kematian Twisha terjadi secara wajar.
Posisi keluarga suami
Di sisi lain, keluarga suami membantah tudingan kekerasan dan menyebut Twisha meninggal karena bunuh diri yang dipicu masalah kesehatan mental. Perbedaan versi ini membuat penyidikan berjalan di bawah tekanan besar dari publik.
Perhatian masyarakat juga mengarah pada ibu mertua Twisha, Giribala Singh, yang merupakan pensiunan hakim. Pengadilan setempat memberi jaminan penangguhan penahanan kepada Giribala, tetapi menolak permohonan serupa untuk suami Twisha yang masih buron.
Giribala mengatakan dirinya tidak mengetahui keberadaan putranya. Ia juga mengeluhkan tekanan publik yang diarahkan kepada keluarganya dan menyebut putranya disarankan pengacara untuk tidak muncul karena khawatir dihakimi massa.
Kasus yang memicu sorotan lebih luas
Twisha dikenal sebagai figur publik yang pernah meraih gelar Miss Pune pada 2012 dan sempat berkarier di industri film Telugu sebelum bekerja di bidang pemasaran. Status publiknya membuat kasus ini cepat menyebar di media sosial dan memicu desakan agar penyelidikan dilakukan secara transparan.
Di tingkat pemerintahan, Kepala Menteri Madhya Pradesh Mohan Yadav menjanjikan investigasi menyeluruh. Komisioner Polisi Bhopal juga mengakui ada kelalaian prosedur pada tahap awal penyelidikan, sementara keluarga Sharma menegaskan mereka tidak akan berhenti mencari keadilan bagi Twisha.
Kasus ini kembali menyoroti praktik dowry death atau kematian akibat mas kawin yang masih menjadi masalah sosial di India. Praktik itu memang dilarang sejak 1961, tetapi kekerasan terkait tuntutan materi dalam pernikahan masih terus dilaporkan dan kerap menimpa perempuan muda.
