Kemasan Sekali Pakai Mendominasi Sampah Pantai Di 112 Negara, Akar Masalah Ada Di Hulu

Author: Redaksi Android62

Masalah sampah plastik di laut ternyata banyak berawal dari hal yang paling dekat dengan kebiasaan harian: kemasan makanan dan minuman sekali pakai. Dalam kajian yang dimuat di jurnal One Earth, jenis sampah ini muncul sebagai yang paling dominan di banyak negara, dan polanya terlihat konsisten di berbagai wilayah.

Temuan tersebut tidak hanya muncul dari satu kawasan tertentu. Penelitian ini menganalisis lebih dari 5.000 survei sampah pantai di 112 negara, dengan cakupan wilayah yang mewakili sekitar 86 persen populasi dunia.

Di banyak pantai, kemasan makanan plastik, tutup botol, dan botol plastik tercatat sebagai sampah yang paling sering ditemukan. Sampah dari aktivitas konsumsi makanan dan minuman bahkan masuk tiga besar pencemar pantai di 93 persen negara yang diteliti.

Pola yang muncul lintas negara

Hasil kajian ini menunjukkan bahwa persoalan sampah plastik makanan dan minuman tidak berdiri sebagai kasus lokal. Pola yang sama muncul di negara dengan sistem pengelolaan sampah yang berbeda-beda, sehingga masalahnya terlihat lintas konteks sosial ekonomi dan lintas wilayah.

Negara-negara yang masuk studi ini juga beragam, termasuk Inggris serta lima negara berpenduduk terbesar di dunia, yaitu India, China, Amerika Serikat, Indonesia, dan Pakistan. Cakupan itu memperkuat gambaran bahwa limbah kemasan sekali pakai menjadi tantangan bersama, bukan hanya milik negara tertentu.

Sorotan dari para peneliti

Tim peneliti berasal dari University of Plymouth, Badan Riset dan Inovasi Nasional, Brunel University of London, dan Plymouth Marine Laboratory. Studi ini juga berkaitan dengan program internasional Plastics in Indonesian Societies atau PISCES yang didukung UK Global Challenges Research Fund.

Penulis utama studi, Max Kelly, menyebut temuan ini memberi bukti kuat tentang sumber utama polusi plastik di laut. Ia menegaskan bahwa kemasan makanan dan minuman sekali pakai terus berulang sebagai penyumbang besar dalam data sampah pantai di seluruh dunia.

Mengapa pembersihan saja tidak cukup

Kajian tersebut juga memperkirakan sekitar 20 juta metrik ton limbah plastik masuk ke lingkungan setiap tahun. Dengan volume sebesar itu, pendekatan yang hanya mengandalkan pengangkutan dan pemrosesan sampah dinilai tidak memadai untuk menghentikan aliran limbah yang terus bertambah.

Masalahnya terletak pada pasokan dari hulu yang tidak berhenti. Selama produksi dan konsumsi plastik sekali pakai tetap tinggi, tekanan terhadap sungai, pantai, dan laut akan terus berlangsung.

Solusi harus dimulai dari sumber

Karena itu, para peneliti menempatkan pengurangan produksi plastik sebagai langkah utama. Mereka menilai hanya plastik yang benar-benar punya manfaat esensial yang seharusnya diproduksi dan digunakan.

Susan Jobling, salah satu penulis studi, menilai solusi perlu dimulai dari sumber masalah. Ia menyoroti bahwa plastik makanan dan minuman yang berumur pendek terus mendominasi polusi pantai dalam berbagai konteks nasional, termasuk Indonesia.

Langkah yang didorong dalam studi ini mencakup pengurangan plastik sekali pakai, penerapan sistem guna ulang atau reuse, desain kemasan yang lebih berkelanjutan, dan kebijakan yang lebih kuat untuk mencegah sampah masuk ke lingkungan sejak awal. Dengan arah seperti itu, fokus penanganan polusi plastik bergeser dari sekadar bersih-bersih pantai menjadi pencegahan sejak tahap produksi.

Source: www.suara.com
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru