Keraguan Baru atas Klaim Microsoft, Bukti Majorana Dinilai Belum Cukup Kuat

Author: Redaksi Android62

Klaim Microsoft di bidang komputasi kuantum kembali menuai sorotan setelah Dr Henry Legg, fisikawan berbasis di Inggris, mempertanyakan kekuatan bukti yang mendukung temuan perusahaan itu. Dalam makalah yang terbit di Nature, ia menyebut Microsoft belum cukup membuktikan bahwa partikel teoretis Majorana benar-benar telah diciptakan.

Perdebatan ini penting karena Majorana menjadi dasar pendekatan Microsoft untuk membangun komputer kuantum. Jika klaim itu belum kokoh, maka fondasi ilmiah dari salah satu jalur riset paling ambisius di industri kuantum ikut kembali dipertanyakan.

Bantahan atas alat verifikasi dan data

Legg juga menyoroti alat perangkat lunak yang digunakan Microsoft untuk memeriksa hasil risetnya. Ia menilai software itu memiliki kesalahan kode dan tidak cukup akurat, sementara data yang dibutuhkan agar ilmuwan lain bisa menelaah hasilnya disebut belum dibagikan secara memadai.

Dalam sains, keterbukaan metode dan data menjadi syarat penting agar temuan bisa diuji ulang atau dibantah. Microsoft mengatakan seluruh datanya sudah dibagikan kepada badan pertahanan Amerika Serikat, Darpa, untuk proses arbitrase independen.

Perusahaan itu juga menyebut sebagian data terlalu sensitif secara komersial untuk dipublikasikan lebih luas. Microsoft menegaskan telah berdialog secara ilmiah dan membela tanggapannya yang menurut mereka sudah diterima serta diterbitkan oleh Nature.

Pertaruhan besar di tengah teknologi yang rapuh

Komputasi kuantum menjanjikan kemampuan menyelesaikan persoalan yang terlalu rumit bagi superkomputer terkuat sekalipun. Namun, mesin kuantum saat ini masih sangat rentan terhadap gangguan kecil seperti getaran ringan atau perubahan suhu yang amat kecil.

Kerentanan itulah yang membuat setiap klaim terobosan baru disorot ketat oleh komunitas ilmiah. Microsoft sendiri terus menanamkan investasi besar dalam perlombaan membangun komputer kuantum dan tetap mempertahankan arah riset yang ditempuhnya.

Pertahanan Microsoft atas pendekatan yang dipilih

Dr Chetan Nayak, Technical Fellow sekaligus Corporate Vice President Quantum Hardware Microsoft, mengatakan keberhasilan pada akhirnya diukur dari lahirnya komputer kuantum yang dapat diskalakan. Ia menekankan bahwa skeptisisme dan ketelitian adalah ciri utama proses ilmiah.

Microsoft juga membantah anggapan bahwa software yang disebut Legg berperan menafsirkan pengukuran yang menjadi dasar kesimpulan mereka. Dengan kata lain, perusahaan berupaya menepis dugaan bahwa alat itu menjadi sumber utama klaim yang kini dipersoalkan.

Legg menggambarkan temuannya dengan perbandingan yang tajam. Ia menyebut Microsoft mengaku telah membangun sesuatu seperti jam Swiss presisi, tetapi saat mesin dibongkar, yang tampak justru seperti campuran komponen yang kacau.

Riwayat kontroversi yang belum mereda

Ini bukan kali pertama riset kuantum Microsoft dipersoalkan. Pada 2021, sebuah makalah dari laboratorium yang didukung Microsoft dan mengklaim menemukan bukti partikel Majorana ditarik kembali.

Pada 2025, editor Nature juga menambahkan catatan pada makalah Microsoft yang mengklaim telah menciptakan partikel tersebut. Mereka menulis bahwa hasil dalam naskah itu “tidak mewakili bukti keberadaan Majorana zero modes” pada perangkat yang dilaporkan.

Setelah itu, Microsoft merilis chip Majorana generasi kedua dan menyebutnya 1.000 kali lebih andal dibanding generasi sebelumnya. Meski begitu, perusahaan tetap yakin jalur yang ditempuhnya adalah solusi terbaik setelah lebih dari 20 tahun pengejaran, dengan dasar teori fisika berusia 90 tahun dan sebuah keadaan materi yang bukan cair, padat, maupun gas.

Sikap skeptis dari para peneliti lain tampaknya belum akan reda dalam waktu dekat. Selama bukti yang diperdebatkan belum dinilai benar-benar kuat, setiap langkah Microsoft di komputasi kuantum akan terus berada di bawah pengawasan ketat.

Berita Terbaru