Kesepakatan Amerika Serikat dengan Iran memunculkan tekanan baru bagi Israel, terutama karena langkah itu berpotensi mengendurkan sanksi dan memberi ruang napas bagi Teheran. Di Jerusalem, kekhawatiran utama tertuju pada kemungkinan Iran menerima bantuan finansial bernilai miliaran dolar AS tanpa kewajiban menyerahkan uranium yang diperkaya.
Bagi pemerintah Benjamin Netanyahu, situasi ini bukan sekadar soal diplomasi. Kesepakatan yang belum dijelaskan secara rinci itu juga dipandang bisa memperkuat kembali jaringan proksi Iran, termasuk Hizbullah di Libanon, sekaligus memberi legitimasi internasional yang lebih besar kepada rezim Teheran.
Kekhawatiran Israel Makin Besar
Para pejabat dan pengamat di Israel menilai pelonggaran tekanan terhadap Iran dapat berdampak langsung pada keseimbangan kekuatan di kawasan. Selain uang dan legitimasi, yang menjadi sorotan adalah peluang Iran membangun kembali kemampuan militernya setelah masa tekanan yang lebih keras.
Ancaman itu muncul di saat Israel masih berupaya mempertahankan tekanan terhadap Teheran. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menegaskan bahwa militer akan tetap mempertahankan zona keamanan di Libanon tanpa batas waktu demi melindungi komunitas di utara Israel.
Netanyahu dan Jarak yang Makin Terasa dengan Washington
Perbedaan arah antara Washington dan Jerusalem mulai terlihat jelas setelah Iran menutup Selat Hormuz dan memicu gangguan besar pada pasokan minyak serta gas global. Trump dinilai ingin segera menghentikan perang yang tidak populer di mata konsumen Amerika, sementara Netanyahu justru mendorong tekanan yang lebih besar terhadap rezim Iran.
Ketegangan itu terlihat pula ketika Trump mengkritik serangan Israel ke Beirut melalui media sosial. Ia meminta Israel menghentikan serangan di Libanon, meski kesepakatan gencatan senjata yang ditengahi AS pada Juni lalu hanya mewajibkan penghentian serangan jika Hizbullah juga berhenti menyerang.
Tekanan Politik di Dalam Negeri Israel
Di dalam negeri, Netanyahu menghadapi kritik dari berbagai arah. Sejumlah pihak menuduhnya membawa Israel ke perang yang salah arah dan gagal menjaga hubungan dengan mitra terpentingnya, yakni Amerika Serikat.
Mantan penasihat keamanan nasional Chuck Freilich bahkan menilai Netanyahu sedang menjalankan politik murni untuk menyelamatkan posisinya menjelang pemilu Israel di musim gugur mendatang. Di hadapan publik, Netanyahu tetap tidak secara terbuka menyerang kesepakatan AS-Iran dan masih menyebut tujuan perang Israel sebagian besar telah tercapai.
Namun, di lingkaran dalam pemerintahan, kekecewaan disebut cukup besar. Harapan bahwa perang dapat menghasilkan perubahan fundamental di kawasan, termasuk kemungkinan menggulingkan rezim Iran, kini dinilai semakin tidak realistis.
Pengaruh Israel ke Washington Makin Terbatas
Trump mencoba meredakan kekhawatiran itu dalam wawancara dengan The Wall Street Journal. Ia mengatakan, “Bibi baik-baik saja dengan ini. Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dalam kondisi apa pun.”
Meski begitu, para analis menilai Iran masih memiliki berton-ton material yang diperkaya, cukup untuk bahan bakar hampir 11 senjata nuklir. Ketergantungan Israel pada amunisi dan sistem pertahanan udara AS selama tiga tahun terakhir juga membatasi ruang gerak Israel dalam menentukan langkah sendiri.
Mantan duta besar Israel untuk AS, Michael Herzog, menilai Trump akan tetap mengambil keputusan yang dianggapnya terbaik, terlepas dari apakah itu menguntungkan Israel atau tidak. Di tengah situasi itu, kesepakatan AS-Iran terus menjadi sumber ketidakpastian baru bagi Netanyahu dan pemerintahannya.
