Kesepakatan Rp61,25 Triliun Dari Prancis Bawa Energi, Investasi, Dan Radar Lebih Dekat Ke RI

Author: Redaksi Android62

Lawatan Presiden Prabowo Subianto ke Prancis menghasilkan paket kerja sama bernilai USD 3,5 miliar atau sekitar Rp 61,25 triliun. Nilai itu datang dari kesepakatan yang menyentuh energi, investasi, dan pertahanan, sehingga hasil kunjungan ini langsung memberi bobot besar pada hubungan Indonesia dan Prancis.

Daya dorong utama kerja sama tersebut terlihat dari Forum CEO Indonesia–Prancis yang sekaligus meluncurkan France-Indonesia High Level Business Council atau FI-HLBC. Prabowo dan Presiden Prancis Emmanuel Macron hadir menyaksikan forum itu, yang mempertemukan pelaku usaha besar dari kedua negara.

Dorongan investasi dan perdagangan

Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menyebut FI-HLBC sebagai langkah strategis untuk memperkuat hubungan ekonomi kedua negara. Ia menjelaskan bahwa forum itu mempertemukan 30 pimpinan industri dan perusahaan terkemuka dengan total kapitalisasi pasar gabungan mencapai USD 1,3 triliun.

Menurut Rosan, forum tersebut tidak berhenti pada ruang dialog. Ia menilai pertemuan itu juga menjadi sarana untuk mendorong investasi dan perdagangan, sekaligus memperlihatkan tingginya kepercayaan dunia usaha Prancis terhadap Indonesia.

Prabowo sendiri memandang kehadiran perusahaan-perusahaan Prancis sebagai sinyal penting bagi perekonomian nasional. Ia melihat partisipasi mereka sebagai tanda minat yang kuat untuk ikut terlibat dalam pengembangan ekonomi Indonesia.

Empat kesepakatan yang paling menonjol

Dari rangkaian kerja sama yang diumumkan, ada empat kesepakatan utama yang paling disorot. Keempatnya mencakup diplomasi bisnis, pengembangan energi, dan penguatan industri pertahanan.

Kesepakatan pertama lahir dari Kadin Indonesia dan MEDEF International melalui penandatanganan MoU untuk meluncurkan France-Indonesia High-Level Business Council. Forum ini disiapkan sebagai wadah dialog tingkat tinggi untuk mengawal komitmen investasi dan perdagangan.

Kesepakatan kedua melibatkan Pertamina dan SLB/PT Schlumberger Geophysics Nusantara. Kolaborasi ini berfokus pada pengembangan teknologi migas dan energi bersih, termasuk enhanced oil recovery, migas nonkonvensional, digitalisasi, AI, efisiensi biaya, CCS, minimisasi flare, dan energi panas bumi.

Kesepakatan ketiga juga melibatkan Pertamina, kali ini dengan TotalEnergies. Ruang lingkupnya mencakup hulu migas, LNG, perdagangan energi, biofuel, energi terbarukan, bisnis rendah karbon, studi bersama, hingga pengembangan kilang hijau.

Kesepakatan keempat datang dari Danantara melalui PT Len Industri yang memvalidasi Letter of Intent dengan Thales. Kerja sama itu mencakup rencana pembangunan pabrik radar “Made in Indonesia”, tactical data link, sistem komando dan kendali, fasilitas pemeliharaan, dan pelatihan radar.

Arah kolaborasi yang tidak berhenti di satu forum

Kadin Indonesia dan MEDEF International juga sepakat menggelar forum tahunan secara bergantian di Jakarta dan Paris. Kedua pihak akan mengadakan rapat koordinasi tingkat wakil setiap kuartal agar kerja sama tetap berjalan konsisten.

Melalui forum tersebut, Indonesia dan Prancis menargetkan perdagangan bilateral naik tiga kali lipat pada 2035 dari posisi USD 2,6 miliar saat ini. Target itu menunjukkan bahwa hubungan ekonomi kedua negara diarahkan untuk tumbuh dalam jangka panjang, bukan sekadar mengikuti satu rangkaian kunjungan.

Di bidang energi, dua kerja sama yang melibatkan Pertamina memperlihatkan bahwa ruang kolaborasi semakin lebar. Fokusnya tidak hanya pada produksi migas, tetapi juga pada teknologi baru, transisi energi, dan pengurangan emisi karbon.

Kerja sama Pertamina dengan SLB/PT Schlumberger Geophysics Nusantara menekankan penerapan teknologi skala besar di aset Pertamina. Sementara kemitraan dengan TotalEnergies membuka peluang di LNG, biofuel, energi terbarukan, CCS/CCUS, dan bisnis rendah karbon.

Sektor pertahanan ikut menguat

Kesepakatan antara Danantara dan Thales menambah dimensi lain dari lawatan Prabowo ke Prancis. Kerja sama itu memperkuat proyek industri pertahanan yang sebelumnya sudah berjalan antara PT Len dan Thales.

Ruang lingkup kemitraannya tidak hanya berhenti pada radar pertahanan udara. Kerja sama tersebut juga mencakup antariksa dan sistem tempur TNI AL, sehingga hubungan industri strategis kedua negara terlihat terus berkembang.

Dengan total nilai kerja sama mencapai USD 3,5 miliar, hasil lawatan Prabowo ke Prancis memperlihatkan pertemuan kepentingan yang sangat luas. Paket kesepakatan itu menghubungkan investasi, perdagangan, energi bersih, dan pertahanan dalam satu rangkaian kerja sama yang lebih dalam antara Indonesia dan Prancis.

Source: www.medcom.id
Berita Terbaru