Ketahanan Energi Indonesia Peringkat Kedua Dunia 2026, Bauran Domestik Menahan Guncangan Timur Tengah

Author: Redaksi Android62

Ketahanan energi Indonesia mendapat sorotan besar setelah riset JP Morgan Asset & Wealth Management menempatkan Indonesia di posisi kedua dunia. Penilaian itu muncul di tengah pasar energi global yang masih mudah terguncang oleh situasi geopolitik, terutama ketika ketegangan di Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran soal pasokan.

Laporan berjudul Pandora’s Box: The Global Energy Shock of 2026 menyebut daya tahan Indonesia lahir dari strategi pemerintah dalam meredam risiko saat harga energi dunia bergerak tidak menentu. Karena itu, posisi tersebut dipandang sebagai hasil dari langkah yang terarah, bukan sekadar keberuntungan.

Di dalam laporan itu, sekitar 77 persen kebutuhan energi nasional disebut relatif terlindungi dari gejolak luar. Angka tersebut memberi gambaran bahwa Indonesia masih memiliki penyangga yang cukup kuat saat pasar internasional menghadapi tekanan besar.

Komposisi bauran energi domestik juga menunjukkan struktur yang masih didominasi sumber fosil. Batu bara tercatat sebesar 48 persen, disusul gas pada level 22 persen, sementara energi terbarukan baru berkontribusi 7 persen.

Meski porsi energi terbarukan belum besar, keberadaannya tetap penting karena memberi arah bagi sistem energi yang lebih tahan terhadap risiko jangka panjang. Struktur seperti ini membuat Indonesia masih bisa menjaga kestabilan di tengah kondisi luar negeri yang mudah berubah.

Ketegangan yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel ikut menjadi latar yang memperkuat relevansi laporan tersebut. Perselisihan itu dinilai berdampak langsung pada rantai pasok energi serta memunculkan ketidakpastian harga di pasar global.

Ketua Fraksi Partai Golkar DPR RI M. Sarmuji mengapresiasi capaian itu pada Jumat (24/4/2026). Ia menilai posisi Indonesia menunjukkan kemampuan membaca perubahan global dan menyiapkan langkah antisipatif sejak awal.

“Satu hal yang penting adalah pengelolaan energi tidak boleh hanya reaktif,” kata Sarmuji. Menurutnya, pengelolaan energi harus disusun dengan cara yang lebih terencana agar tidak mudah terpukul saat gangguan eksternal muncul.

Sarmuji juga menyoroti bahwa Indonesia adalah negara net importir minyak. Kondisi itu membuat stabilitas energi menjadi isu yang tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan ekonomi, tetapi juga langsung menyentuh ketahanan nasional.

Dalam pandangannya, peringkat tinggi yang diraih Indonesia harus dibaca sebagai pengingat sekaligus modal. Indonesia dinilai tidak cukup hanya menjaga kondisi yang ada, tetapi juga perlu menambah kekuatan agar tidak rentan ketika pasar global kembali bergejolak.

Riset JP Morgan Asset & Wealth Management menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara yang paling siap menghadapi krisis energi global. Penilaian itu semakin menonjol karena muncul saat tekanan pasar dunia belum benar-benar mereda.

Sarmuji menilai capaian tersebut perlu dijaga melalui kerja berkelanjutan. Ia menekankan bahwa tantangan sektor energi selalu berubah mengikuti dinamika politik dan ekonomi internasional.

“Capaian ini harus dijaga dan ditingkatkan,” ujarnya. Dalam konteks itu, percepatan pengembangan energi terbarukan dan peningkatan efisiensi sektor energi dipandang sebagai arah kebijakan yang perlu terus diperkuat agar Indonesia semakin mandiri di tengah ketidakpastian pasokan dunia.

Berita Terbaru