Kolom Abu Dukono Menjulang 3,5 Kilometer, Ancaman ke Galela dan Permukiman Warga Meningkat

Author: Redaksi Android62

Gunung Dukono kembali melepaskan abu vulkanik dalam erupsi terbaru yang memunculkan kolom abu setinggi sekitar 3.500 meter di atas puncak. Sebaran abu terpantau mengarah ke barat laut, sehingga wilayah permukiman dan Kota Galela di sekitar area terdampak perlu meningkatkan kewaspadaan.

Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral masih menetapkan status Gunung Dukono pada Level II atau Waspada. Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menyampaikan erupsi terjadi pada Kamis pukul 07.12 WIT dengan kolom abu berwarna kelabu hingga hitam dan berintensitas tebal.

Arah sebaran abu menjadi perhatian utama karena hujan abu dapat mengganggu aktivitas warga. Selain berdampak pada kesehatan, kondisi ini juga berpotensi menghambat transportasi dan mengotori lingkungan jika material vulkanik jatuh ke permukiman dalam jumlah besar.

Gunung Dukono sendiri memang masih menunjukkan aktivitas tinggi. Selama periode 9 Mei hingga 14 Mei 2026, gunung api di Kabupaten Halmahera Utara itu tercatat rata-rata erupsi 48 kali per hari dengan tinggi kolom abu yang naik-turun antara 600 meter hingga 4.300 meter di atas puncak.

Sebelum erupsi terbaru, Dukono juga sempat mengalami letusan besar pada 8 Mei 2026. Saat itu, tinggi kolom abu mencapai 10.000 meter di atas puncak, memperlihatkan bahwa aktivitas vulkaniknya masih fluktuatif namun tetap intens.

Gunung yang berada di wilayah Kecamatan Galela dan Tobelo ini dikenal sebagai salah satu gunung api aktif di Maluku Utara. Karena pola erupsinya masih didominasi pelepasan abu vulkanik, pemantauan berkelanjutan tetap menjadi kebutuhan utama.

Selain hujan abu, masyarakat juga diminta mewaspadai ancaman lain berupa aliran lahar dingin saat hujan lebat turun. Bahaya ini terutama perlu diantisipasi pada jalur sungai yang berhulu di puncak gunung.

Sejumlah aliran sungai masuk dalam daftar yang perlu diperhatikan. Di sektor utara, perhatian tertuju pada Sungai Mamuya, sementara di sektor timur laut kewaspadaan diarahkan ke Sungai Mede dan Sungai Tauni.

Badan Geologi meminta pemerintah daerah serta BPBD Provinsi Maluku Utara dan BPBD Kabupaten Halmahera Utara memperkuat koordinasi dengan Pos Pengamatan Gunung Api Dukono di Desa Mamuya. Langkah ini dibutuhkan agar pembaruan informasi aktivitas gunung tetap cepat dan penanganan dampak dapat dilakukan lebih sigap.

Pemantauan intensif pun masih menjadi fokus karena erupsi Gunung Dukono belum menunjukkan penurunan yang signifikan. Selama aktivitas vulkanik tetap tinggi, risiko hujan abu, gangguan kesehatan, dan lahar dingin masih harus diwaspadai warga di sekitar kawasan gunung.

Source: mediaindonesia.com
Berita Terbaru