Otoritas Jasa Keuangan menilai ruang pertumbuhan bank syariah di kelas modal inti menengah masih terbuka lebar. Sinyal itu menguat karena tahun ini ditargetkan lahir satu Bank Umum Syariah hasil spin-off yang akan menambah kekuatan persaingan di kelompok tersebut.
Kehadiran pemain baru itu dinilai penting bukan hanya untuk menambah jumlah bank, tetapi juga untuk memperkokoh struktur industri. OJK menekankan bahwa bank syariah perlu basis yang lebih kuat, lebih efisien, dan lebih siap menghadapi konsolidasi yang terus berjalan.
KBMI 2 jadi titik perhatian baru
Dalam pengelompokan modal inti yang diatur lewat POJK No.12/POJK.03/2021 tentang Konsolidasi Bank Umum, KBMI 2 berada pada rentang modal inti Rp6 triliun sampai Rp14 triliun. Di atasnya ada KBMI 3 dengan modal inti Rp14 triliun sampai Rp70 triliun.
OJK menyebut saat ini ada tiga bank syariah berskala besar yang sudah berada di kelompok KBMI 2 dan KBMI 3. Tambahan satu BUS hasil spin-off diharapkan mempertebal posisi kelompok itu dan memperluas kapasitas industri syariah nasional.
Pergerakan ini membuat segmen modal inti menengah menjadi semakin strategis. Di saat yang sama, ruang pertumbuhan di level tersebut masih terbuka untuk membentuk struktur industri yang lebih seimbang.
Konsolidasi tidak berhenti di bank umum syariah
Penguatan industri syariah juga menyentuh BPR Syariah. OJK sedang memproses penggabungan 21 BPR dan BPR Syariah yang ditargetkan melahirkan 9 BPR Syariah yang lebih kuat, efisien, dan berdaya saing.
Rangkaian langkah itu menjadi bagian dari implementasi pilar pertama RP3SI, yakni penguatan struktur dan ketahanan industri perbankan syariah. OJK ingin pertumbuhan industri tidak hanya tercermin dari besarnya aset, tetapi juga dari kualitas kelembagaan.
Arah kebijakan tersebut menunjukkan bahwa konsolidasi dipakai sebagai fondasi. Dengan cara itu, industri diharapkan bisa membesar tanpa kehilangan daya tahan saat persaingan makin ketat.
Kinerja masih tumbuh dua digit
Di tengah proses penguatan struktur, industri perbankan syariah tetap mencatat pertumbuhan yang solid. Hingga Maret 2026, aset perbankan syariah naik 10,49% secara tahunan menjadi Rp1.061,61 triliun.
Pembiayaan juga meningkat 9,82% secara tahunan menjadi Rp716,40 triliun. Dana Pihak Ketiga ikut tumbuh 11,14% secara tahunan dan mencapai Rp811,76 triliun.
Data itu menunjukkan aktivitas keuangan syariah masih bergerak kuat. Minat pasar dan penyaluran dana juga tetap terjaga di tengah agenda konsolidasi yang berjalan.
Kualitas pembiayaan masih terjaga
Selain tumbuh, industri juga menjaga mutu pembiayaannya. Rasio Financing to Deposit Ratio atau FDR naik menjadi 87,65%, yang menandakan penyaluran dana ke sektor riil semakin kuat.
Dari sisi risiko, NPF Gross berada di 2,28% dan NPF Net di 0,87%. Angka tersebut menunjukkan pembiayaan bermasalah masih terkendali meski ekspansi industri terus berlangsung.
Kombinasi pertumbuhan aset, pembiayaan, dan Dana Pihak Ketiga memberi ruang bagi bank syariah untuk memperbesar skala usaha. Namun, konsolidasi tetap dibutuhkan agar pertumbuhan itu tidak hanya besar secara angka, melainkan juga lebih sehat dan lebih tahan menghadapi tekanan pasar.
Dengan calon BUS baru hasil spin-off, konsolidasi BPR Syariah yang terus bergerak, dan kinerja industri yang masih tumbuh dua digit, peta bank syariah nasional tampak semakin dinamis. OJK menempatkan seluruh langkah itu sebagai bagian dari upaya membangun industri yang lebih besar, lebih kokoh, dan lebih siap bersaing.
