Lebanon Pisahkan Jalur Negosiasi Dengan Israel, Tekanan di Selatan Belum Mereda

Author: Redaksi Android62

Presiden Lebanon Joseph Aoun menegaskan bahwa perundingan dengan Israel di Washington berdiri terpisah dari pembicaraan Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Swiss. Ia menekankan bahwa jalur tersebut harus tetap difokuskan pada kepentingan Lebanon, bukan mengikuti agenda pihak lain.

Pernyataan itu muncul di tengah upaya Beirut mempertahankan gencatan senjata di Lebanon selatan. Aoun menyebut pembahasan yang berjalan kini diarahkan untuk membuka jalan bagi penarikan pasukan Israel, pengerahan tentara Lebanon, kepulangan warga, pembebasan tahanan, dan dimulainya rekonstruksi.

Fokus Utama Tetap Pada Kepentingan Lebanon

Dalam pertemuan dengan delegasi Parlemen Inggris, Aoun mengatakan berbagai langkah tengah dilakukan untuk mengonsolidasikan gencatan senjata di wilayah selatan. Ia juga menilai Lebanon telah mengambil kembali kendali atas kewenangan dan keputusannya.

Menurut Aoun, proses perundingan harus dijalankan secara mandiri agar tuntutan Lebanon dapat terpenuhi. Ia menilai pendekatan itu penting untuk membuka jalan menuju perdamaian yang nyata dan langgeng.

Status Zona Percontohan Masih Menunggu Persetujuan

Kantor Kepresidenan Lebanon menyampaikan bahwa status zona percontohan masih dibahas dan belum final karena masih menunggu persetujuan Israel. Isu itu ditempatkan sebagai bagian dari rangkaian negosiasi yang lebih luas untuk mencapai kestabilan di perbatasan selatan.

Dalam pertemuan lain dengan delegasi kementerian luar negeri dan kementerian migrasi Belanda, Aoun menyebut negosiasi di Washington diarahkan untuk membangun landasan yang jelas bagi pemenuhan seluruh tuntutan Lebanon. Penjelasan itu menegaskan bahwa Beirut ingin memisahkan pembicaraan bilateralnya dengan Israel dari dinamika diplomasi yang lebih luas.

Latar Diplomasi Dan Tekanan Lapangan

Departemen Luar Negeri AS sebelumnya mengumumkan putaran baru negosiasi langsung Lebanon-Israel di Washington, D.C., pada Jumat, 19 Juni, dengan jadwal pelaksanaan 23-25 Juni. Putaran itu berlangsung setelah nota kesepahaman AS-Iran mulai berlaku pada Kamis, 18 Juni.

Dokumen kesepahaman AS-Iran tersebut disebut memuat ketentuan yang mengikat kedua pihak untuk menghormati kedaulatan dan integritas teritorial Lebanon. Di sisi lain, situasi keamanan di Lebanon selatan tetap tinggi karena serangan Israel disebut telah menewaskan lebih dari 4.100 orang dan melukai lebih dari 12.000 orang sejak 2 Maret, berdasarkan data resmi Lebanon.

Israel juga masih menduduki sejumlah wilayah di selatan Lebanon yang sebagian telah dikuasai selama puluhan tahun. Sebagian wilayah lainnya direbut selama perang 2023-2024, sehingga isu penarikan pasukan dan penegakan gencatan senjata terus menjadi inti dari perundingan yang sedang berlangsung.

Source: www.viva.co.id
Berita Terbaru