Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menegaskan bahwa memorandum kesepahaman atau MoU antara Iran dan Amerika Serikat tidak memuat pembahasan soal program rudal balistik Teheran. Ia menyebut isu itu tidak pernah muncul dalam pembicaraan kedua pihak dan tidak tercantum dalam teks kesepakatan.
Penegasan itu disampaikan Sharif dalam konferensi pers bersama Presiden Iran Masoud Pezeshkian di Pakistan. Dalam kesempatan tersebut, ia menolak anggapan bahwa MoU itu berkaitan dengan pembatasan rudal balistik Iran.
Isi MoU yang disorot
Sharif menekankan bahwa jika dokumen itu dibaca secara langsung, tidak ada satu pun ketentuan yang menyebut rudal balistik. Menurut dia, tudingan yang mengaitkan MoU dengan isu tersebut tidak sejalan dengan isi kesepakatan yang telah disepakati.
Pernyataan itu muncul di tengah sorotan terhadap perjanjian yang disebut-sebut mencakup sejumlah kewajiban keamanan kawasan. Namun, Sharif menegaskan bahwa pembahasan tentang rudal balistik bukan bagian dari paket negosiasi Iran dan AS.
Seruan agar semua negara diperlakukan setara
Dalam pernyataannya di hadapan media, Sharif juga mengingatkan komunitas internasional agar tidak menerapkan standar ganda terhadap negara-negara yang memiliki kemampuan rudal balistik. Ia menilai setiap negara perlu diperlakukan secara setara dalam menyikapi isu tersebut.
Posisi itu menunjukkan sikap Pakistan yang menekankan konsistensi dalam diplomasi keamanan. Di saat yang sama, Sharif memisahkan isu rudal balistik dari MoU Iran-AS yang kini menjadi perhatian publik.
Pokok kesepakatan Iran dan AS
MoU Iran dan AS ditandatangani secara jarak jauh pada 18 Juni 2026 dini hari untuk mengakhiri konflik militer yang berlangsung sejak 28 Februari 2026. Dalam kesepakatan itu, AS diberi tenggat untuk mencabut blokade angkatan laut, sementara Iran berkewajiban memulihkan pelayaran di Selat Hormuz.
Kesepakatan tersebut juga memuat komitmen Iran untuk tidak mengembangkan atau memperoleh senjata nuklir. Namun, pembahasan mengenai program nuklir Iran belum tuntas dalam MoU itu karena akan dilanjutkan melalui perundingan dan kesepakatan terpisah.
Negosiasi lanjutan dijadwalkan berlangsung dalam 60 hari ke depan. Salah satu kepentingan utama Teheran adalah pencabutan sanksi yang dijatuhkan AS dan sekutunya, sementara pembahasan rudal balistik tetap berada di luar isi dokumen yang dipersoalkan.
