Di tengah rangkaian ibadah haji yang padat, heatstroke menjadi ancaman paling serius bagi jemaah saat berada di bawah panas Makkah. Kondisi ini muncul ketika tubuh sudah tidak mampu lagi mengatur suhu internal, lalu panas tubuh naik drastis hingga bisa mengganggu fungsi organ vital.
Gejalanya dapat dikenali dari kulit yang panas dan kering, pusing, mual, kebingungan, sampai penurunan kesadaran. Jika tidak segera ditangani, serangan panas ini dapat mengancam nyawa dan membutuhkan pertolongan segera.
Selain serangan panas, dehidrasi juga sering menyerang tanpa disadari. Di cuaca yang sangat panas, tubuh bisa kehilangan banyak cairan meski rasa haus belum terasa jelas, terutama ketika aktivitas fisik tetap berjalan.
Dampaknya tidak ringan karena tubuh bisa menjadi lemas, pusing, cepat lelah, dan sulit berkonsentrasi. Bila dibiarkan, kekurangan cairan dapat menurunkan fungsi organ dan memicu komplikasi serius.
Gangguan yang kerap berkembang dari aktivitas fisik berlebihan
Kelelahan akibat panas atau heat exhaustion juga patut diwaspadai karena sering muncul setelah tubuh dipaksa terus bergerak di bawah suhu tinggi. Saat kondisi ini terjadi, cairan dan elektrolit banyak terbuang melalui keringat, lalu tubuh memberi sinyal lewat rasa lemah, mual, pusing, keringat berlebihan, dan kram otot.
Meski terlihat sebagai keluhan sementara, heat exhaustion tidak boleh dianggap sepele. Jika diabaikan, gangguan ini bisa berkembang menjadi heatstroke dan memperburuk kondisi jemaah.
Masalah pernapasan juga ikut mengintai di tengah kepadatan jemaah. Udara panas dan kering, debu, serta kerumunan dapat memicu batuk, tenggorokan kering, hingga infeksi saluran pernapasan atas atau ISPA.
Kondisi lingkungan yang ramai membuat penularan penyakit pernapasan lebih mudah terjadi jika kewaspadaan menurun. Karena itu, menjaga kebersihan diri dan memakai masker saat diperlukan menjadi langkah yang membantu menekan risikonya.
Kulit dan kaki sering terluka meski kerap dianggap ringan
Panas ekstrem tidak hanya berdampak pada organ dalam, tetapi juga pada kulit dan kaki. Gesekan, perjalanan kaki yang panjang, dan paparan panas dapat membuat kulit menjadi kering, iritasi, bahkan terluka.
Kaki pun berisiko melepuh bila alas kaki tidak memadai. Walau kelihatannya lebih ringan dibanding dehidrasi atau heatstroke, gangguan seperti ini tetap bisa menghambat mobilitas jemaah dan mengganggu kelancaran ibadah berikutnya.
Risiko tersebut semakin besar pada jemaah lansia dan mereka yang memiliki penyakit penyerta. Usia lanjut membuat tubuh lebih sulit beradaptasi terhadap suhu tinggi, sementara diabetes, gangguan jantung, dan penyakit ginjal dapat memperbesar peluang munculnya gangguan kesehatan selama berhaji.
Aktivitas fisik yang berlebihan tanpa istirahat cukup juga ikut memperburuk keadaan. Ketika asupan cairan dan nutrisi kurang, tubuh semakin rentan, bahkan dehidrasi berat dapat mengganggu sirkulasi darah dan memicu komplikasi serius pada organ tubuh.
Langkah sederhana untuk menekan risiko
Jemaah disarankan minum air mineral secara rutin meski belum merasa haus. Kebiasaan ini penting karena tubuh tetap kehilangan cairan saat banyak bergerak, terutama ketika beraktivitas di luar ruangan di bawah panas matahari.
Selain itu, paparan sinar matahari terlalu lama sebaiknya dihindari. Pakaian longgar yang mudah menyerap keringat, pelindung kepala seperti topi atau payung, istirahat yang cukup, serta pola makan bergizi seimbang dapat membantu menjaga stamina selama rangkaian ibadah berlangsung.
Source: www.beritasatu.com






