Literasi Pasar Modal Diperluas Hingga SD, BEI Jabar Cegah Salah Paham Investasi Sejak Awal

Author: Redaksi Android62

Jawa Barat kini menjadi salah satu daerah dengan pertumbuhan investor pasar modal yang paling menonjol di Indonesia. Di wilayah ini, jumlah Single Investor Identification sudah menembus lebih dari 5,6 juta, sementara investor saham mencapai 1,9 juta SID dan diproyeksikan segera menyentuh angka 2 juta.

Di tengah lonjakan itu, BEI Jawa Barat memilih memperlebar jalur edukasi ke berbagai jenjang pendidikan. Sasaran sosialisasi tidak hanya kampus, tetapi juga SMA, SMP, bahkan sekolah dasar, agar pemahaman soal investasi bisa dibangun sebelum masyarakat terlanjur masuk tanpa bekal yang cukup.

Kepala Kantor Perwakilan BEI Jabar, Achmad Dirgantara, menilai akses untuk berinvestasi kini memang semakin mudah. Namun, kemudahan itu belum selalu diimbangi dengan pemahaman yang memadai, sehingga edukasi sejak dini dianggap penting untuk mencegah salah paham yang berujung pada kerugian finansial.

Di lapangan, masih ditemukan pelajar yang belum tepat memahami istilah investasi. Ada yang sampai mengira pasar modal identik dengan kripto, sehingga edukasi formal dinilai perlu hadir lebih awal untuk meluruskan kekeliruan semacam itu.

Menurut Achmad, maraknya influencer investasi di media sosial ikut membuat batas antara berbagai produk keuangan semakin kabur di mata pelajar. Karena itu, BEI Jabar menempatkan literasi pasar modal sebagai kebutuhan dasar, bukan sekadar materi tambahan.

Edukasi yang dibawa ke sekolah dan kampus juga diarahkan agar peserta didik mengenal instrumen resmi di pasar modal dengan benar. Saham, reksa dana, dan obligasi disebut berada dalam regulasi serta koridor hukum yang berbeda dari aset digital lainnya.

Di pendidikan tinggi, penguatan literasi dilakukan melalui jaringan Galeri Investasi. Saat ini ada 69 Galeri Investasi di Jawa Barat yang berada di lingkungan universitas, SMA, SMK, emiten, hingga instansi publik lainnya.

Fungsi galeri itu tidak hanya sebagai tempat mengenalkan pasar modal kepada mahasiswa. Fasilitas tersebut juga dipakai sebagai laboratorium praktik untuk menyiapkan sumber daya manusia yang profesional sejak bangku kuliah.

BEI Jabar bahkan menargetkan mahasiswa bisa siap mengikuti sertifikasi profesi pasar modal. Sertifikasi yang disiapkan antara lain Wakil Perantara Pedagang Efek atau WPPE dan Wakil Manajer Investasi atau WMI.

Kerja sama BEI Jabar dengan Otoritas Jasa Keuangan, Self-Regulatory Organizations, dan pelaku pasar lainnya ikut memperkuat ekosistem edukasi tersebut. Dampaknya disebut turut terasa pada pertumbuhan investor di Jawa Barat yang kini menyumbang sekitar 20 persen terhadap pertumbuhan investor pasar modal nasional.

Dengan perkembangan itu, BEI Jabar menilai edukasi sejak dini semakin relevan untuk mengejar ketertinggalan pemahaman masyarakat. Tujuannya agar minat yang terus tumbuh bisa diikuti oleh pengetahuan yang cukup tentang risiko, produk, dan aturan main di pasar modal.

Source: rmol.id
Berita Terbaru