LLA-6 Hasilkan Minyak Murni 1.321 BOPD, PHE ONWJ Temukan Harapan Baru di Utara Jawa Barat

Author: Redaksi Android62

Produksi minyak dari Sumur LLA-6 di Platform LLA menjadi sorotan utama PHE ONWJ karena mengalir alami sebagai minyak murni tanpa air. Sumur pengembangan ini mencatat laju 1.321 barel minyak per hari dan 2 juta standar kaki kubik gas per hari, sehingga langsung membuka harapan baru bagi pasokan migas di perairan utara Jawa Barat.

Pencapaian tersebut juga memperlihatkan bahwa lapisan yang dibor masih menyimpan potensi yang layak digarap lebih lanjut. Di tengah kebutuhan menjaga ketahanan energi, hasil dari LLA-6 menambah keyakinan bahwa wilayah operasi PHE ONWJ masih bisa memberi kontribusi tambahan bagi produksi nasional.

Pengeboran yang lebih cepat dan lebih terarah

Keberhasilan LLA-6 tidak berdiri sendiri, melainkan terkait erat dengan pengalaman dari pengembangan sebelumnya di Sumur LLE-5ST. Senior Manager Subsurface Development & Planning PHE ONWJ, Adang Sukmatiawan, menjelaskan bahwa lapisan targetnya sama, sehingga formulasi dan strategi pengeboran disempurnakan agar hasilnya lebih optimal.

Pengeboran directional menggunakan Rig PVD-II dimulai pada 24 Maret 2026. Proses itu mencapai kedalaman vertikal sebenarnya 3.561 kaki true vertical depth, dengan kedalaman terukur sumur 5.407 kaki.

Seluruh rangkaian pekerjaan, mulai dari pengeboran hingga uji alir produksi pada 2 Mei 2026, selesai dalam 33 hari. Kelancaran logistik dan peralatan di laut tanpa gangguan cuaca ikut membantu pekerjaan berjalan lebih cepat dari yang diharapkan.

Anjungan LLA kembali aktif setelah vakum panjang

Aktivitas di Anjungan LLA memiliki arti strategis karena menjadi pengeboran pertama setelah lebih dari 24 tahun vakum. Situasi ini membuat tim subsurface harus lebih cermat dalam mengelola risiko geologis di lapangan.

Risiko yang dihadapi mencakup gas dangkal dan kehilangan fluida pengeboran. Untuk mengatasinya, PHE ONWJ menerapkan manajemen kehilangan fluida serta studi geomekanik yang terintegrasi agar proses tetap aman dan terarah.

Pendekatan tersebut membuat Sumur LLA-6 berhasil menembus Lapisan LL-30 lebih updip 60 kaki dibanding Sumur LLE-5ST. Hasil analisis menunjukkan Lapisan LL-30 di area baru selatan masih menyimpan potensi dan berpeluang dikembangkan lewat pengeboran sumur-sumur baru.

Efisiensi kerja ikut menjadi nilai penting

Selain angka produksi, efisiensi juga menjadi bagian yang menonjol dari pencapaian ini. Total anggaran yang terserap hanya sekitar 61,5 persen dari alokasi dana yang disetujui oleh SKK Migas.

Porsi biaya yang lebih rendah itu menunjukkan bahwa durasi kerja yang lebih singkat ikut menekan beban operasional. General Manager PHE ONWJ, Muzwir Wiratama, menyebut capaian ini sebagai wujud nyata ketahanan energi nasional.

Ia juga menegaskan bahwa eksekusi rencana kerja yang aman, lebih cepat, dan menghasilkan produksi yang jauh lebih baik mencerminkan semangat “Safer, Faster, Better”. Setelah keberhasilan ini, PHE ONWJ mengalihkan fokus operasional armada untuk menyiapkan mata bor baru demi menembus target formasi berikutnya di sumur pengembangan lain.

Perusahaan masih menyiapkan beberapa rencana kerja bor dengan target lapisan yang sama. Langkah itu dilakukan untuk menjaga momentum produksi migas di wilayah utara Jawa Barat.

Berita Terbaru