Ikan sapu-sapu yang hidup di sungai-sungai Jakarta dinyatakan tidak aman untuk dijadikan pakan ternak karena berisiko membawa logam berat. Risiko itu muncul bukan dari ikan semata, melainkan dari kondisi perairan yang sudah menerima pencemaran dari banyak sumber secara terus-menerus.
Kandungan berbahaya seperti merkuri, timbal, kadmium, dan kromium dapat masuk ke badan air dari aliran limbah industri yang belum diolah sesuai standar. Limbah tersebut tidak hanya berasal dari Jakarta, tetapi juga dari kawasan penyangga seperti Bekasi, Tangerang, dan Bogor yang ikut menyumbang beban pencemaran ke sungai-sungai di ibu kota.
Sumber pencemar datang dari banyak arah
Masalah logam berat di sungai Jakarta tidak terjadi karena satu jalur pembuangan saja. Kondisinya terbentuk dari akumulasi limbah yang masuk tanpa henti dari berbagai aktivitas, sehingga kualitas air terus menurun dari waktu ke waktu.
Di luar industri, limbah rumah tangga juga memberi tekanan tambahan pada sungai. Deterjen, baterai, cat, dan produk rumah tangga lain dapat menyumbang bahan kimia yang perlahan memperburuk kondisi perairan.
Pencemaran itu makin rumit karena sebagian sumbernya kerap luput dari pengawasan. Bengkel kecil, industri rumahan, dan pembuangan limbah elektronik sembarangan turut memperbesar risiko karena limbah elektronik diketahui mengandung logam berat berbahaya.
Mengapa ikan sapu-sapu ikut terdampak
Ikan sapu-sapu hidup dan mencari makan di aliran sungai yang kualitas airnya sudah tercemar. Karena itu, zat berbahaya dari lingkungan mudah terakumulasi di dalam tubuh ikan dan ikut terbawa saat ikan dimanfaatkan lebih lanjut.
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Haeru Rahayu menegaskan bahwa ikan sapu-sapu “disinyalir mengandung logam berat” jika dimanfaatkan untuk konsumsi. Pernyataan ini memperlihatkan bahwa persoalan utama berada pada ekosistem sungainya, bukan pada ikan sebagai organisme yang berdiri sendiri.
Dalam konteks pakan ternak, kondisi tersebut tetap menimbulkan risiko besar. Jika bahan baku sudah mengandung logam berat, potensi perpindahan zat berbahaya ke hewan ternak dan rantai pangan ikut meningkat.
Bantaran sungai ikut mempersulit pemulihan
Kerusakan di sekitar sungai membuat proses pemulihan kualitas air makin berat. Minimnya daerah resapan serta alih fungsi lahan menjadi permukiman dan bangunan komersial mengurangi kemampuan alam menyaring polutan.
Saat resapan menurun, zat pencemar lebih mudah terbawa ke aliran sungai dan bertahan lebih lama di dalamnya. Dalam kondisi seperti itu, ikan yang hidup di sana menerima paparan berkelanjutan dalam jangka panjang.
Situasi ini menunjukkan bahwa pemulihan sungai tidak cukup hanya dengan membersihkan aliran air. Kondisi bantaran dan tata ruang di sekitarnya juga ikut menentukan seberapa cepat lingkungan bisa pulih.
Pengawasan belum lepas dari hambatan
Secara struktur, pengawasan lingkungan hidup berada di bawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan atau KLHK. Di tingkat daerah, tugas itu dijalankan oleh Dinas Lingkungan Hidup, termasuk DLH DKI Jakarta, bersama Balai Besar Wilayah Sungai atau BBWS dalam pengelolaan sumber daya air.
Namun, pelaksanaannya masih menghadapi sejumlah hambatan. Keterbatasan sumber daya manusia, koordinasi antarlembaga, dan penegakan hukum yang belum kuat membuat pengawasan di lapangan belum berjalan maksimal.
Pelanggaran juga tidak selalu diikuti efek jera karena sanksi kerap berhenti pada level administratif. Karena itu, pengendalian pencemaran di sungai Jakarta memerlukan langkah yang lebih luas, konsisten, dan melibatkan pengawasan yang ketat, transparansi data kualitas air, serta partisipasi publik agar sumber pencemar benar-benar tertekan.
