Penutupan Bulan Bung Karno di Bali menempatkan pesan ideologis sebagai sorotan utama. Di hadapan kader dan unsur masyarakat yang hadir di Bali Beach Convention Center, The Meru, Sanur, Wayan Koster menegaskan bahwa api perjuangan harus tetap menyala lewat kerja nyata, bukan sekadar peringatan seremonial.
Acara itu juga menjadi perhatian karena Megawati Soekarnoputri hadir langsung bersama Prananda Prabowo, Wayan Koster, dan I Nyoman Giri Prasta. Kehadiran Presiden ke-5 RI tersebut memperkuat makna penutupan sebagai momentum politik dan refleksi bagi PDI Perjuangan di Bali.
Momentum refleksi bagi kader partai
Koster menyebut penutupan Bulan Bung Karno sebagai ruang pertanggungjawaban kerja-kerja ideologis partai kepada rakyat. Ia menegaskan bahwa kader PDI Perjuangan Bali harus tetap teguh berdiri di jalan Bung Karno dan menjaga semangat perjuangan melalui tindakan yang dirasakan masyarakat.
Menurut Koster, Juni memiliki makna sakral dalam perjalanan bangsa. Ia merujuk 1 Juni 1945 sebagai hari Bung Karno menggali dan mempersembahkan Pancasila, 6 Juni 1901 sebagai hari kelahiran Bung Karno, dan 21 Juni 1970 sebagai hari wafat sang proklamator.
Ia juga mengingatkan pesan “Jasmerah” atau jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Pesan itu, menurut Koster, bukan sekadar ajakan mengenang masa lalu, melainkan pegangan untuk membaca arah masa depan bangsa.
Rangkaian kegiatan menguatkan tema kebangsaan
DPD PDI Perjuangan Provinsi Bali menggelar rangkaian Bulan Bung Karno sebagai gerakan kebudayaan, pendidikan, lingkungan hidup, ekonomi kerakyatan, olahraga rakyat, dan penguatan ideologi Pancasila. Tema perayaan 2026 adalah “Setialah Kepada Sumbermu” dengan subtema “Kekuatan Kita Harus Tetap Bersumber Kepada Kekuatan Rakyat, Tetap Apinya Semangat Rakyat”.
Tema itu dipakai sebagai pengingat agar kader partai tidak tercerabut dari akar perjuangan. Koster menegaskan bahwa sumber kekuatan partai bukan jabatan atau kekuasaan, melainkan kepercayaan rakyat yang terus dijaga melalui kerja politik dan sosial.
Penutupan berlangsung meriah
Suasana penutupan dibuat meriah dengan pembacaan puisi oleh Putri Suastini Koster. Sejumlah penampilan turut mengisi acara, mulai dari juara fashion show, matembang, jugling arak Bali, senam nangun sat kerthi loka Bali, bapang barong ketet, hingga mekendang tunggal.
Setelah rangkaian penampilan, panitia menyerahkan hadiah kepada para pemenang. Penutupan berlangsung dalam suasana yang disebut penuh makna dan selaras dengan rangkaian kegiatan yang telah digelar di seluruh Bali selama Bulan Bung Karno 2026.
Deretan lomba dan gerakan di Bali
Rangkaian kegiatan yang memeriahkan peringatan itu mencakup Liga Kampung Soekarno Cup III, Utsawa Widyatarka Susastra Bali, dan Lomba Cerdas Cermat Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun Bali Era Baru. Ada pula Lomba Senam Nangun Sat Kerthi Loka Bali, Lomba Mixology Arak Bali, dan Lomba Barista Kopi Bali.
Kegiatan lainnya meliputi Gerakan Merawat Pertiwi, Sosialisasi Sertifikasi Kekayaan Intelektual, Lomba Bapang Barong Ketet, Mekendang Tunggal, Lomba Karya Tulis Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun Bali Era Baru 2025–2125, serta Lomba Konten Kreatif “Bali Bersih Sampah”. Perayaan 125 tahun kelahiran Bung Karno juga ditandai dengan Bulan Bung Karno bertajuk “Satyam Eva Jayate” pada 6 Juni 2026 di Gedung Dharma Negara Alaya, Denpasar, yang melibatkan 1.300 orang.
Tetap saja, inti dari seluruh rangkaian itu kembali pada pesan yang ditegaskan Koster di hadapan para kader. Bulan Bung Karno di Bali diposisikan bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai ruang menghidupkan kembali gagasan Bung Karno dalam kerja yang berpihak pada rakyat.
