Mikroplastik Ditemukan pada Ikan hingga Garam, Laut Indonesia Hadapi Ancaman Pangan

Author: Redaksi Android62

Mikroplastik tidak lagi hanya menjadi sampah yang terlihat mengapung di laut. Partikel ini telah ditemukan pada ikan, kerang, udang, teripang, hingga garam yang dikonsumsi masyarakat.

Temuan tersebut menempatkan pencemaran laut Indonesia sebagai persoalan keamanan pangan, selain ancaman terhadap ekosistem pesisir. Bahan pencemar dapat masuk dan terakumulasi dalam rantai makanan melalui berbagai biota laut.

Partikel Plastik Menyebar di Perairan

Plastik yang bertahan lama di lingkungan akan pecah menjadi bagian sangat kecil berupa mikroplastik dan nanoplastik. Partikel tersebut ditemukan di air laut serta sedimen, sehingga pencemaran tidak hanya terjadi di permukaan perairan.

Kemasan makanan dan minuman sekali pakai, kantong plastik, botol, sedotan, styrofoam, jaring, serta tali plastik termasuk jenis sampah yang banyak ditemukan di kawasan pesisir. Material tersebut sulit terurai dan dapat bertahan selama ratusan tahun.

Sumber Pencemar Jalur Menuju Laut Dampak yang Dikhawatirkan
Limbah domestik Aliran sungai Menurunkan kualitas perairan
Limbah industri Sungai dan kawasan pesisir Mencemari ekosistem laut
Limbah pertanian Aliran air menuju muara Menambah tekanan pada habitat

Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University, Prof Etty Riani, menilai sebagian besar pencemaran laut justru berawal dari aktivitas di daratan. Limbah rumah tangga, industri, dan pertanian dapat terbawa sungai sebelum bermuara ke laut.

Habitat Pesisir Berisiko Kehilangan Fungsi

Tekanan pencemaran juga mengancam mangrove, padang lamun, dan terumbu karang. Ketiga ekosistem tersebut menjadi habitat penting bagi beragam biota laut dan menopang produktivitas perikanan.

Kerusakan habitat dapat berpengaruh terhadap hasil perikanan dalam jangka panjang. Etty memperingatkan hasil perikanan diperkirakan dapat menurun dalam 10 hingga 20 tahun apabila pencemaran terus dibiarkan dan habitat ikan rusak.

Nelayan berisiko menghadapi penurunan hasil tangkapan serta kualitas produk perikanan. Wisata bahari juga dapat terdampak apabila kondisi lingkungan pesisir semakin memburuk.

Penanganan Harus Melibatkan Banyak Pihak

Dalam keterangan IPB University yang dikutip Kompas.com, Etty menyatakan penanganan pencemaran laut tidak dapat dibebankan kepada satu pihak. “Penanganan pencemaran laut harus dilakukan secara terpadu melalui penguatan penegakan hukum, penerapan ekonomi sirkular, serta kolaborasi pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan masyarakat,” ujarnya.

Pengurangan sampah plastik sekali pakai dapat dimulai dari aktivitas harian, seperti membawa tas belanja dan botol minum sendiri. Pemilahan sampah dan pengolahan sampah organik menjadi kompos juga dapat mengurangi beban lingkungan.

Masyarakat perlu menghindari pembuangan sampah ke sungai maupun pantai karena aliran sungai dapat membawa limbah ke laut. Kegiatan bersih sungai dan pantai, disertai edukasi di keluarga, menjadi bagian dari upaya menjaga ekosistem pesisir tetap berkelanjutan.

Berita Terbaru