Imbal Hasil Treasury Tembus 5%, Minyak US$90 Menambah Beban Saham Teknologi

Author: Redaksi Android62

Lonjakan minyak Brent hingga melampaui US$90 per barel kembali mengubah perhitungan investor global. Kenaikan biaya energi datang ketika imbal hasil Treasury AS bertenor 30 tahun menembus 5%, sehingga tekanan terhadap valuasi saham semakin besar.

Pasar Asia memulai perdagangan Senin (20/7) dengan sikap hati-hati karena risiko inflasi kembali menguat. Saham teknologi dan semikonduktor menjadi kelompok yang paling rentan saat investor memiliki pilihan instrumen pendapatan tetap dengan imbal hasil lebih tinggi.

Obligasi Menjadi Alternatif bagi Investor

Imbal hasil obligasi yang meningkat menaikkan standar pertumbuhan laba yang harus dicapai perusahaan, terutama emiten berharga tinggi. Arus dana berpotensi bergeser dari saham ke obligasi ketika instrumen tersebut menawarkan pengembalian yang lebih menarik.

Perubahan itu terjadi di tengah kekhawatiran bahwa suku bunga The Fed mungkin tidak dapat dilonggarkan secepat harapan pasar. Harga energi yang lebih tinggi berisiko memperpanjang tekanan inflasi dan mempersempit ruang kebijakan bank sentral.

Kepala Ekonom JPMorgan Bruce Kasman menilai keseimbangan risiko mulai berubah. “Perkiraan kami adalah perubahan menuju kenaikan suku bunga The Fed yang lebih bertahap pada 2027. Namun, keseimbangan risiko mulai bergeser ke arah kenaikan suku bunga yang lebih cepat dari perkiraan,” ujarnya.

Pasar berjangka memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed paling cepat pada September mencapai 60%. Perkiraan tersebut menjadi perhatian karena arah bunga AS memengaruhi arus modal dan penilaian aset di banyak negara.

Teknologi Kehilangan Ruang untuk Salah Langkah

Sektor teknologi menghadapi tekanan tambahan setelah Indeks Philadelphia Semiconductor merosot 10% sepanjang pekan lalu. Posisi indeks itu kini sekitar 20% di bawah rekor tertingginya pada Juni.

Valuasi saham semikonduktor dan kecerdasan buatan mulai dipertanyakan setelah reli sebelumnya. Sentimen AI juga melemah sesudah perusahaan China Moonshot memperkenalkan model open-weight Kimi K3.

Moonshot menyatakan Kimi K3 memiliki kinerja yang mendekati model frontier Fable milik Anthropic dari Amerika Serikat. Perkembangan tersebut menambah perhatian pasar terhadap tingkat persaingan dan potensi perubahan ekspektasi pada perusahaan teknologi.

Namun, proyeksi laba masih menjadi penopang penting bagi sektor ini. Analis BofA Savita Subramanian memperkirakan laba perusahaan melampaui konsensus sekitar 5% atau tumbuh 28%, dengan teknologi menyumbang lebih dari separuh pertumbuhan tersebut.

Laba perusahaan semikonduktor bahkan diproyeksikan meningkat sekitar 130% secara tahunan. Investor menanti laporan keuangan Alphabet, Intel, dan Tesla pekan ini untuk melihat apakah optimisme pertumbuhan laba masih bertahan.

Pasar Asia Merespons Kenaikan Energi

Harga minyak Brent naik sekitar 3% hingga berada di atas US$90 per barel, yang menjadi level tertinggi dalam lebih dari sebulan. Kenaikan ini berlangsung saat militer Amerika Serikat memasuki hari kesembilan serangan terhadap Iran, sementara Teheran menyerang sejumlah target di kawasan.

Menurut mediaindonesia.com, indeks MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang turun 0,3%. Bursa Korea Selatan melemah 0,6% setelah anjlok hampir 9% pada pekan sebelumnya.

Indikator Pergerakan Keterangan
Harga minyak Brent Naik sekitar 3% Di atas US$90 per barel
MSCI Asia-Pasifik di luar Jepang Turun 0,3% Sentimen regional melemah
Bursa Korea Selatan Turun 0,6% Tekanan pada saham teknologi
Indeks Philadelphia Semiconductor Turun 10% pekan lalu Sekitar 20% di bawah rekor Juni

Pasar Korea dinilai sensitif karena komposisinya banyak diisi emiten teknologi dan semikonduktor. Bursa Jepang tutup karena hari libur nasional, setelah Nikkei turun 6,4% pada pekan sebelumnya akibat aksi jual saham teknologi.

Tekanan energi juga menjadi tantangan bagi Bank Sentral Eropa yang dijadwalkan menggelar rapat kebijakan pada Kamis. Pasar memperkirakan ECB mempertahankan suku bunga pada level 2,25%.

Di pasar valuta asing, euro relatif stabil di US$1,1433 dan dolar AS berada di 162,41 yen. Harga emas turun 0,6% menjadi US$3.993 per troy ounce karena kenaikan imbal hasil obligasi mengurangi daya tarik aset tersebut.

Source: mediaindonesia.com
Berita Terbaru