Peluncuran New Glenn Sukses Dengan Booster Bekas Pakai, Orbit BlueBird 7 Justru Melenceng

Author: Redaksi Android62

Blue Origin mencatat dua hasil yang kontras dalam misi NG-3. Di satu sisi, booster New Glenn berhasil mendarat kembali di laut setelah dipakai ulang dari penerbangan sebelumnya, sementara di sisi lain satelit BlueBird 7 milik AST SpaceMobile memang lepas dari roket dan menyala, tetapi justru masuk ke orbit yang tidak sesuai target.

Situasi ini membuat misi tersebut tetap penting bagi Blue Origin, namun tidak sepenuhnya mulus bagi muatan yang dibawanya. Keberhasilan pendaratan booster menunjukkan kemajuan dalam penggunaan ulang perangkat peluncur, tetapi masalah pada orbit satelit mengingatkan bahwa sebuah peluncuran baru benar-benar dianggap berhasil apabila muatan mencapai posisi yang tepat untuk menjalankan tugasnya.

Pencapaian penting pada sisi roket

Misi NG-3 menarik perhatian karena Blue Origin untuk pertama kalinya memakai kembali booster bekas untuk penerbangan orbit. Booster yang digunakan adalah perangkat yang sebelumnya terbang pada misi NG-2, lalu kembali berhasil diturunkan dengan selamat di laut.

Langkah ini menjadi tonggak berarti bagi pengembangan roket yang bisa digunakan ulang. Dalam industri antariksa komersial, kemampuan semacam ini sangat penting karena dapat membantu menekan biaya dan membuka peluang frekuensi peluncuran yang lebih tinggi.

New Glenn sendiri merupakan roket besar dengan tinggi sekitar 322 kaki. Ukurannya disebut sekitar 100 kaki lebih tinggi daripada Falcon 9 milik SpaceX, dan mendekati Space Launch System milik NASA yang dipakai untuk misi Artemis II mengitari Bulan.

Muatan berhasil lepas, tetapi orbitnya meleset

Blue Origin menyebut pemisahan muatan berlangsung sesuai prosedur. Perusahaan bahkan mengonfirmasi lewat media sosial bahwa payload telah terpisah, AST SpaceMobile juga memastikan satelitnya sudah menyala, tetapi orbit yang ditempati tidak berada pada kondisi nominal.

AST SpaceMobile kemudian menjelaskan bahwa BlueBird 7 memang berhasil dilepaskan dari roket dan diaktifkan. Namun, ketinggian orbitnya terlalu rendah untuk mendukung operasi normal dengan sistem pendorong yang ada di satelit itu.

Akibatnya, satelit tersebut tidak dapat menjalankan fungsi sesuai skema misi. AST SpaceMobile juga menyampaikan bahwa BlueBird 7 akan de-orbit, sedangkan biaya pembuatannya diperkirakan tertutup oleh polis asuransi perusahaan.

Artinya bagi Blue Origin dan pelanggan muatan

Hasil misi ini memperlihatkan bahwa peluncuran antariksa bisa sukses di satu aspek, tetapi tetap gagal memenuhi tujuan akhir secara menyeluruh. Bagi operator roket memang ada nilai penting dari keberhasilan mendaratkan booster, namun bagi pemilik muatan, orbit yang tepat tetap menjadi syarat utama untuk memulai operasi.

Untuk Blue Origin, NG-3 tetap bisa dibaca sebagai langkah maju karena perusahaan telah membuktikan kemampuan memakai ulang booster untuk misi orbit. Capaian itu menjadi modal penting dalam persaingan dengan pemain besar lain di industri peluncuran komersial, termasuk SpaceX milik Elon Musk.

Di saat yang sama, kasus BlueBird 7 menunjukkan bahwa keberhasilan teknis tidak berhenti pada lepas landas dan pemisahan. Jika orbit tidak sesuai kebutuhan misi, satelit tetap tidak dapat beroperasi sebagaimana direncanakan.

Agenda peluncuran berikutnya tetap berjalan

Di luar misi NG-3, Blue Origin masih menyiapkan agenda lain, termasuk rencana peluncuran lander Mark 1 Blue Moon tanpa awak ke Bulan pada akhir musim panas. Perusahaan menyebut wahana itu sudah menjalani uji lingkungan di NASA’s Johnson Space Center di Houston.

Dengan rangkaian tersebut, perhatian terhadap setiap misi Blue Origin diperkirakan akan tetap tinggi. Hasil NG-3 memberi gambaran bahwa keberhasilan mendaratkan booster memang penting, tetapi pencapaian itu belum lengkap jika muatan utama belum sampai ke orbit yang benar sesuai kebutuhan operasinya.

Berita Terbaru