Penolakan Trump Memicu Kekhawatiran Pasokan, Harga Minyak Naik Lagi Lewat US$100

Harga minyak dunia kembali menanjak setelah pasar membaca sinyal bahwa ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran belum mereda. Dalam perdagangan terbaru, harga West Texas Intermediate atau WTI sempat melampaui US$ 100 per barel, sementara Brent juga ikut bergerak naik tajam.

Kenaikan ini muncul di tengah kekhawatiran bahwa jalur distribusi energi paling penting di dunia bisa terganggu. Selat Hormuz menjadi perhatian utama karena volume besar minyak mentah, bahan bakar, dan produk petrokimia melintas di sana setiap hari.

Pasar langsung bereaksi pada risiko suplai

Mengacu pada data CNBC yang dikutip Detik Finance, kontrak berjangka WTI naik lebih dari 3 persen ke level US$ 100,11 per barel pada pukul 08.35 ET. Pada waktu yang sama, harga Brent menguat 3,2 persen menjadi US$ 111,67 per barel.

Pergerakan itu menunjukkan betapa sensitifnya pasar energi terhadap perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Begitu risiko pada jalur pengiriman naik, pelaku pasar cenderung memasukkan premi harga yang lebih tinggi sebagai antisipasi gangguan pasokan.

Syarat Iran ditolak Gedung Putih

Ketegangan memanas setelah Iran mengajukan syarat agar Selat Hormuz dibuka. Tehran meminta Amerika Serikat mencabut blokade angkatan laut dan menunda pembicaraan soal program nuklir sebagai bagian dari usulan tersebut.

Gedung Putih menolak tawaran itu, dan Presiden AS Donald Trump disebut tidak puas dengan proposal Iran. Penolakan itu membuat ruang penyelesaian diplomatik terlihat semakin sempit dan menambah tekanan pada pasar minyak.

Selat Hormuz tetap jadi titik paling rawan

Selat Hormuz bukan sekadar jalur pelayaran biasa, melainkan simpul utama dalam rantai pasokan energi global. Sekitar 20 juta barel per hari bergantung pada jalur ini, sehingga gangguan kecil saja bisa memicu lonjakan harga yang lebih besar.

Kekhawatiran pasar tidak hanya terfokus pada kemungkinan penutupan jalur, tetapi juga pada hambatan teknis bila arus kapal tersendat. Dalam situasi seperti itu, distribusi energi internasional bisa melambat dan memicu kepanikan di pasar komoditas.

Pernyataan Washington menambah tekanan politik

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio juga menyuarakan keraguan terhadap posisi Iran. Ia menilai Iran tidak layak memegang kendali sepihak atas jalur perairan yang sangat vital bagi perdagangan energi dunia.

“Itu bukan membuka selat. Itu adalah jalur perairan internasional,” kata Rubio, seperti dikutip CNBC, Selasa (28/4/2026). Ia menegaskan Amerika Serikat tidak bisa menerima kondisi ketika Iran menentukan siapa yang boleh lewat dan berapa biaya yang harus dibayar.

Risiko harga belum mudah reda

Presiden Lipow Oil Associates, Andy Lipow, menilai konflik semacam ini tidak mudah diredam dalam waktu singkat. Ia menyebut pembersihan ranjau dan penguraian kemacetan kapal tanker dapat memakan waktu hingga berbulan-bulan.

“Semakin lama konflik berlangsung, semakin tinggi harganya,” kata Lipow. Ia juga memperkirakan harga minyak mentah bisa turun sekitar $10 per barel jika situasi membaik dengan cepat, tetapi normalisasi pasar tetap memerlukan waktu empat hingga enam bulan meski konflik berakhir segera.

Tekanan tambahan juga datang dari sentimen investor yang ikut dipengaruhi isu keluarnya Uni Emirat Arab dari organisasi negara pengekspor minyak, OPEC. Dalam kondisi seperti ini, arah harga minyak akan sangat bergantung pada perkembangan negosiasi, stabilitas jalur pelayaran, dan sejauh mana ketegangan antara Washington dan Tehran bisa mereda.

Berita Terkait