Gelombang penghormatan datang dari Irlandia setelah Tomi Reichental meninggal dunia pada usia 90 tahun. Sosok yang dikenal luas sebagai penyintas Holocaust itu selama bertahun-tahun menjadi salah satu suara paling konsisten dalam mengingatkan publik tentang kekejaman Bergen-Belsen dan bahaya antisemitisme.
Reichental tidak sekadar menyimpan ingatan masa lalu untuk dirinya sendiri. Ia menjadikan pengalaman hidupnya sebagai kesaksian terbuka, terutama untuk anak-anak sekolah dan berbagai komunitas yang ia temui di Irlandia.
Presiden Irlandia Catherine Connolly memimpin penghormatan atas kepergiannya. Ia menyebut Reichental memberi kontribusi luar biasa bagi masyarakat Irlandia dengan membawa pengalaman pribadinya dari Bergen-Belsen dan penderitaan keluarganya ke perhatian publik.
Taoiseach Micheál Martin juga menyampaikan duka mendalam. Ia menggambarkan Reichental sebagai sosok yang mendedikasikan hidupnya untuk mengajarkan generasi baru tentang kejahatan Holocaust, sekaligus meninggalkan warisan yang berisi martabat, keberanian, dan pencerahan.
Saksi hidup yang terus berbicara
Reichental lahir dari keluarga petani Yahudi di Cekoslowakia pada 1935. Pada 1944, ia dideportasi bersama keluarganya ke kamp konsentrasi Bergen-Belsen di Jerman, dan pengalaman itu meninggalkan luka mendalam sepanjang hidupnya.
Ia kehilangan 35 anggota keluarga dekat dalam Holocaust. Kehilangan itulah yang kemudian mendorongnya terus berbicara di hadapan publik agar ingatan tentang para korban tidak hilang.
Setelah pindah ke Republik Irlandia pada 1959, Reichental membesarkan keluarganya di Dublin. Dari sana, ia berkembang menjadi figur penting dalam pendidikan Holocaust di Irlandia melalui pertemuan langsung dengan pelajar dan warga.
Pada 2019, Reichental menghabiskan dua pekan di Irlandia Utara untuk berbicara kepada anak-anak sekolah dan komunitas menjelang Hari Peringatan Holocaust. Ratusan siswa mendengar kesaksiannya bersama penyintas lain, Susan Pollock, tentang pengalaman mereka selama Holocaust.
Warisan yang menjangkau sekolah, buku, dan film
Hubungan Reichental dengan generasi muda tidak berhenti pada sesi tatap muka. Ia juga berbagi pengalaman melalui karya tulis dan dokumenter agar kisahnya menjangkau audiens yang lebih luas.
Pada 2011, ia menerbitkan autobiografi berjudul I Was a Boy in Belsen. Selain itu, ia menjadi subjek dua dokumenter yang menyoroti pengalamannya di Bergen-Belsen pada 1944 dan 1945.
Reichental pernah mengatakan kepada BBC News NI bahwa ia memilih berbicara karena merasa orang-orang mulai melupakan pelajaran dari masa kelam itu. Ia menegaskan bahwa ia berbicara demi para korban agar ingatan mereka tetap hidup.
Dalam salah satu kesempatan, ia juga bertemu Susan Pollock untuk pertama kali di sebuah sinagoge di Belfast pada 2019. Setelah pertemuan itu, keduanya berbagi pengalaman Holocaust di hadapan ratusan pelajar dari Irlandia Utara.
Latar Bergen-Belsen yang tak pernah lepas dari kesaksiannya
Kisah Reichental selalu kembali pada Bergen-Belsen, kamp yang menjadi pusat penderitaan keluarganya. Kamp di Jerman utara itu awalnya digunakan untuk tawanan perang Sekutu, lalu berubah menjadi kamp konsentrasi Nazi pada 1943.
Saat pasukan Inggris membebaskan kamp tersebut pada April 1945, mereka menemukan 60.000 tahanan di dalamnya. Para tahanan menghadapi kekurangan gizi, penyakit, dan perlakuan brutal selama masa penahanan.
Sekitar 70.000 orang tewas di Belsen, termasuk Anne Frank. Latar sejarah inilah yang membuat kesaksian Reichental memiliki bobot besar bagi banyak pendengar di Irlandia dan di tempat lain.
Dewan Perwakilan Yahudi Irlandia turut menyampaikan kesedihan mendalam atas kematiannya. Mereka menyebut Reichental sebagai salah satu suara paling luar biasa di Irlandia dalam peringatan, pendidikan, dan kemanusiaan.
