Harga Pertamax masih menyisakan peluang untuk turun lagi, tetapi arah pergerakannya tidak berada di tangan SPBU semata. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menegaskan bahwa penurunan harga BBM nonsubsidi sangat bergantung pada kondisi harga minyak dunia.
Juru Bicara Kementerian ESDM, Dwi Anggia, menyebut harga Pertamax bisa ikut turun ketika harga minyak dunia kembali normal. Sebaliknya, bila harga minyak global naik, maka BBM nonsubsidi di dalam negeri juga harus menyesuaikan harga keekonomiannya.
Lonjakan Harga yang Baru Terjadi
Pertamax sempat mengalami kenaikan tajam pada pertengahan Juni setelah ditahan selama berbulan-bulan. Harga per liternya naik dari Rp 12.300 menjadi Rp 16.250.
Kenaikan serupa juga terjadi pada Pertamax Green 95. BBM dengan RON 95 itu naik dari Rp 12.900 menjadi Rp 17.000 per liter.
Lonjakan hampir Rp 4 ribu per liter tersebut langsung terasa bagi pengguna BBM nonsubsidi. Perubahan harga yang besar dalam sekali penyesuaian membuat banyak konsumen mempertanyakan apakah level baru itu akan bertahan lama.
Kenapa Harga Bisa Bergerak Naik atau Turun
Menurut Anggia, hubungan antara harga minyak dunia dan BBM nonsubsidi di Indonesia bersifat langsung. Karena itu, pelaku usaha harus mengikuti harga keekonomian yang terbentuk dari dinamika pasar energi global.
Ia juga menegaskan bahwa penyesuaian harga tidak hanya bergerak satu arah ke atas. Saat tekanan harga minyak dunia mereda, ruang penurunan harga di level konsumen juga terbuka kembali.
Di tengah fluktuasi energi global yang masih dinamis, pemerintah menyebut penyesuaian harga BBM nonsubsidi bukan hanya terjadi di Indonesia. Tren serupa juga terlihat di sejumlah negara lain, sehingga perubahan harga di dalam negeri mengikuti situasi pasar internasional.
BBM Subsidi Tetap Dijaga
Berbeda dengan BBM nonsubsidi, pemerintah menegaskan harga BBM subsidi tidak akan naik. Kebijakan itu disebut diarahkan untuk melindungi masyarakat yang dinilai rentan secara ekonomi.
Anggia mengatakan kebijakan Presiden adalah menjaga agar BBM subsidi tetap tidak naik, meski kondisi geopolitik di luar negeri sedang sulit. Dengan begitu, beban gejolak harga energi global tidak sepenuhnya diteruskan ke kelompok masyarakat yang paling sensitif terhadap kenaikan harga.
Bagi pengguna Pertamax, sinyal yang perlu dicermati adalah pergerakan harga minyak dunia. Jika harga global membaik, peluang koreksi harga Pertamax tetap ada.
Namun, pemerintah juga memberi peringatan bahwa skenario sebaliknya tetap mungkin terjadi. Bila harga minyak dunia kembali naik, maka harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax berpotensi kembali menyesuaikan diri.
