Ketua Komisi XII DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Bambang Patijaya, menyebut harga Pertamax di Indonesia masih relatif lebih rendah dibandingkan BBM setara di Thailand, Singapura, dan Filipina. Perbandingan itu menjadi dasar pandangannya bahwa penyesuaian harga Pertamax masih berada dalam koridor yang wajar.
Menurut Bambang, Pertamax adalah BBM nonsubsidi sehingga harga jualnya mengikuti mekanisme pasar. Ia menilai perubahan harga tetap dipengaruhi harga minyak dunia dan biaya pengadaan energi yang bergerak di pasar global.
Penyesuaian Bertahap Dinilai Lebih Aman
Bambang menjelaskan bahwa pemerintah dan PT Pertamina (Persero) tidak menerapkan perubahan harga secara mendadak dan penuh dalam waktu singkat. Pola bertahap itu dipakai agar stabilitas ekonomi tetap terjaga dan masyarakat punya ruang untuk menyesuaikan diri.
Ia juga menegaskan bahwa pemerintah tetap memperhitungkan kondisi perekonomian nasional dan daya beli masyarakat dalam setiap penyesuaian harga BBM nonsubsidi. Karena itu, menurut dia, penetapan harga Pertamax tidak bisa dilepaskan dari perubahan harga keekonomian di tingkat global.
Dalam keterangannya pada Jumat, 12 Juni 2026, Bambang menyampaikan bahwa hal ini menunjukkan adanya upaya menjaga keseimbangan antara penerapan mekanisme pasar dan keterjangkauan harga energi. Ia menyebut Pertamax di Indonesia masih relatif lebih rendah dibandingkan sejumlah negara lain di kawasan Asia Tenggara.
Keluhan Publik Tetap Dipahami
Di sisi lain, Bambang memahami keluhan masyarakat setelah kenaikan harga BBM nonsubsidi. Ia menilai respons publik wajar karena harga energi berdampak langsung terhadap biaya hidup dan aktivitas harian.
Meski begitu, ia menyoroti bahwa pemerintah masih mempertahankan harga Pertalite, Solar subsidi, dan LPG 3 kilogram hingga akhir tahun 2026. Kebijakan tersebut dinilai penting untuk menjaga kebutuhan energi dasar tetap terlindungi.
Bambang juga melihat situasi ini sebagai momentum untuk mendorong konsumsi energi yang lebih efisien. Ia mendorong pengurangan penggunaan BBM yang tidak perlu, pemanfaatan pola kerja fleksibel seperti WFH maupun WFA jika memungkinkan, serta percepatan transisi ke kendaraan listrik dan teknologi yang lebih hemat energi.
Dengan demikian, penyesuaian harga Pertamax tidak hanya terkait dinamika pasar minyak dunia, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara ketersediaan energi, keterjangkauan harga, dan arah transisi energi di Indonesia.
