Presiden Prabowo Subianto menaruh harapan besar kepada pesantren untuk menyiapkan generasi menuju Indonesia Emas 2045. Harapan itu mencakup pembentukan anak muda yang unggul secara intelektual, memiliki wawasan global, serta kuat secara spiritual dan berakhlak.
Pesan tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra saat mewakili Presiden. Ia hadir dalam tasyakuran HUT ke-10 Pesantren Modern Internasional Dea Malela di Pamangong, Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, Sabtu, 18 Juli 2026.
Dalam sambutannya, Yusril menyampaikan salam dan apresiasi Prabowo kepada pendiri pesantren, Prof KH Din Syamsuddin, para pengasuh, serta santri. Pemerintah memandang Pesantren Modern Internasional Dea Malela sebagai salah satu pusat pendidikan Islam yang visioner di Indonesia Timur.
“Presiden Prabowo Subianto menaruh harapan besar pada lembaga pendidikan, seperti Pesantren Modern Internasional Dea Malela,” ujar Yusril saat membacakan pesan presiden. Menurutnya, perjalanan satu dekade lembaga tersebut memperlihatkan komitmen dalam membina generasi muda yang memiliki kemampuan intelektual dan karakter kuat.
Pendidikan yang Memadukan Beragam Kemampuan
Model pendidikan di Pesantren Dea Malela tidak berhenti pada pembelajaran keagamaan. Pesantren ini menggabungkan sains modern, kepemimpinan, dan nilai keislaman universal dalam proses pendidikannya.
Arah tersebut dinilai sejalan dengan Astacita pemerintahan Prabowo. Beritasatu melaporkan titik temunya meliputi pembangunan sumber daya manusia berkualitas, penguatan sains dan teknologi, serta pemantapan ideologi bangsa.
Pemerintah menempatkan penguatan lembaga pendidikan agama sebagai bagian penting dari persiapan menuju 2045. Pesantren dipandang dapat membentuk peserta didik yang mampu menghadapi perkembangan pengetahuan tanpa mengabaikan nilai spiritual dan akhlak.
Perhatian terhadap pendidikan berbasis pesantren juga terlihat dari kehadiran sejumlah pejabat dalam peringatan satu dekade Dea Malela. Mereka datang bersama tokoh nasional, ulama, perwakilan negara sahabat, serta pejabat dan tokoh masyarakat Nusa Tenggara Barat.
| Nama | Jabatan |
|---|---|
| Hanif Faisol Nurofiq | Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan |
| Abdul Mu’ti | Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah |
| Fauzan | Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi |
Jangkauan Pendidikan dari Sumbawa
PMI Dea Malela didirikan Din Syamsuddin dengan visi agar pendidikan dari Sumbawa dapat menjangkau pergaulan dan standar internasional. Pesantren ini dikembangkan sebagai pusat keunggulan pendidikan Islam bertaraf internasional.
Keberagaman santri menjadi salah satu penanda jangkauan tersebut. Selain berasal dari berbagai daerah di Indonesia, santri Dea Malela juga datang dari Rusia, Thailand, Kamboja, dan Timor Leste.
Yusril menilai kehadiran peserta didik dari sejumlah negara memperlihatkan peluang Indonesia memperkuat perannya sebagai pusat peradaban Islam moderat atau wasathiyah. Gagasan itu menekankan Islam yang damai dalam ruang pergaulan internasional.
Pesantren Dea Malela juga mengambil nama dari Ismail Dea Malela, ulama asal Goa-Makassar yang dikenal sebagai penyebar Islam di Sumbawa dan sejumlah wilayah Nusantara. Dalam catatan yang disampaikan pada acara tersebut, Ismail Dea Malela kemudian diasingkan pemerintah kolonial ke Cape Town, Afrika Selatan.
Perjalanan 10 tahun Dea Malela memperlihatkan upaya menghubungkan pendidikan Islam, penguasaan ilmu pengetahuan, dan pembinaan kepemimpinan. Bagi pemerintah, penguatan lembaga semacam ini menjadi bagian dari ikhtiar menyiapkan generasi Indonesia menghadapi 2045.
Source: www.beritasatu.com






