SEC memilih menahan kerangka pengecualian yang sempat disiapkan untuk membuka jalan hukum bagi saham bertoken di platform kripto teregulasi di Amerika Serikat. Langkah ini tidak menghentikan tokenisasi saham, tetapi membuat kepastian hukum yang dibutuhkan pelaku pasar domestik ikut tertunda.
Bagi platform kripto di AS, penundaan itu berarti kesempatan untuk menawarkan ekuitas bertoken kepada investor ritel belum mendapat pintu resmi dari regulator. Di saat yang sama, platform di luar negeri tetap dapat melanjutkan produk serupa tanpa menghadapi hambatan yang sama di wilayah mereka.
Kerangka yang belum jadi pintu masuk resmi
Yang ditahan adalah kerangka “innovation exemption” yang sebelumnya dipandang dapat memberi dasar hukum bagi bursa dan platform kripto teregulasi untuk mencatatkan saham token seperti Apple dan Tesla. Draft tersebut disebut sudah hampir terbit sebelum SEC mengubah arah dan memilih meninjau lebih dulu masukan dari industri.
Secara praktis, keputusan itu membuat pasar AS masih belum memiliki jalur resmi untuk memperdagangkan token saham di bawah pengawasan regulator domestik. Hal ini menjadi sorotan karena platform asing tetap bergerak di area abu-abu yang sejak lama mereka gunakan.
Mengapa saham bertoken tetap menarik
Tokenized stock pada dasarnya bekerja sebagai representasi digital atas klaim terhadap satu saham. Instrumen ini diperdagangkan di blockchain dan dapat bergerak selama 24 jam, sehingga menawarkan pola perdagangan yang berbeda dari pasar saham tradisional.
Model tersebut menarik bagi platform kripto karena mereka bisa memberi akses ke saham seperti Tesla atau Amazon tanpa harus membangun bisnis broker dari awal. Namun, hak yang melekat pada token tidak selalu sama dengan hak pemegang saham asli, karena sangat bergantung pada penerbit dan struktur produknya.
Pertumbuhan pasar tidak diiringi kepastian aturan
Pasar aset dunia nyata yang ditokenisasi, atau tokenized real-world assets, kini disebut telah melampaui $34Bn secara global. Di dalam kategori itu, tokenized equities sendiri sudah melewati kapitalisasi pasar $1Bn menurut data CoinGecko.
Pertumbuhan cepat itu membuat sejumlah proyek berada di garis depan pengembangan infrastruktur tokenisasi. Ondo Finance termasuk nama yang aktif di sektor tokenisasi RWA, sementara MetaMask juga mulai mengintegrasikan produk tokenized stock meski masih berhadapan dengan hambatan regulasi.
Poin sensitif bagi SEC
Salah satu isu utama bagi SEC adalah membedakan token yang didukung langsung oleh emiten dari token pihak ketiga yang dibuat operator terpisah tanpa keterlibatan perusahaan asal. Commissioner Hester Peirce menyebut pengecualian yang mungkin dibuka hanya akan mencakup “digital representations” dari saham, bukan instrumen sintetis.
Regulator juga memberi perhatian pada hak ekonomi dan hak suara. Bagi SEC, pertanyaan apakah pemegang token menerima dividen dan voting rights menjadi penting untuk menentukan sifat produk serta perlakuan hukumnya.
Risiko likuiditas dan perlindungan investor
SEC juga menyoroti risiko ketika beberapa token pihak ketiga melacak saham yang sama. Kondisi itu dapat memecah likuiditas dan membuat price discovery lebih sulit, sekaligus menambah tantangan bagi perlindungan investor.
Karena itu, kerangka pengecualian yang sempat disusun sebelumnya memang dimaksudkan untuk menjawab persoalan tersebut sebelum akhirnya dihentikan sementara. Selama proses itu belum selesai, platform kripto teregulasi di AS tetap berada dalam posisi menunggu.
Bagi proyek yang membangun infrastruktur tokenized equity untuk pasar Amerika Serikat, penundaan ini jelas terasa. Ondo Finance yang banyak beroperasi lewat struktur offshore belum terdampak langsung, tetapi absennya kerangka formal dari SEC tetap memunculkan pertanyaan soal legitimasi jangka panjang.
