Porsi kepemilikan Lo Kheng Hong di PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) kini turun di bawah 5 persen setelah ia melepas 8,18 juta lembar saham melalui dua transaksi. Setelah penjualan itu, kepemilikannya tercatat tinggal 771,01 juta lembar atau setara 4,97 persen.
Aksi jual tersebut dilakukan pada dua level harga yang berbeda. Sebanyak 1.377.000 lembar saham dilepas di harga Rp 925 per saham, sedangkan 6.812.500 lembar lainnya dijual di harga Rp 920 per saham.
Transaksi itu membuat dana yang diperkirakan masuk mencapai sekitar Rp 7,54 miliar. Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia yang dilansir dari Money, tujuan transaksi tersebut adalah realisasi keuntungan.
Keterangan di bursa menyebutkan secara tegas bahwa jenis transaksinya adalah penjualan dengan tujuan realisasi keuntungan. Hal ini menunjukkan keputusan Lo Kheng Hong lebih terkait pengelolaan portofolio saat harga bergerak dinamis, bukan karena perubahan pada sisi fundamental SIMP.
Sebelum penjualan dilakukan, Lo Kheng Hong masih memiliki 779,20 juta lembar saham SIMP atau setara 5,03 persen. Setelah pelepasan saham itu selesai, porsinya turun tipis namun cukup untuk menembus batas di bawah 5 persen.
Perubahan kepemilikan seperti ini kerap menjadi sorotan karena menunjukkan penyesuaian posisi dari investor besar. Dalam pasar modal, ambang 5 persen juga sering diperhatikan karena bisa menandai perubahan bobot kepemilikan yang cukup berarti.
Di sisi lain, struktur kepemilikan SIMP masih tetap didominasi oleh pemegang saham pengendali. Indofood Agri Resources Ltd tercatat menggenggam 73,46 persen saham perseroan, disusul PT Indofood Sukses Makmur Tbk dengan porsi 6,68 persen.
Di bawah dua pemegang utama tersebut, Lo Kheng Hong tetap menjadi salah satu pemegang saham besar SIMP. Data kepemilikan juga mencatat PT Panin Sekuritas Tbk memiliki 1,53 persen saham, sementara Mandiri Investama Sejati memegang 1,06 persen.
Langkah ambil untung semacam ini lazim dipandang sebagai bagian dari disiplin investasi. Saat harga saham bergerak cepat dan sentimen pasar menguat, sebagian investor besar memilih mengunci keuntungan lebih awal daripada menunggu kenaikan berikutnya yang belum tentu terjadi.
Isfhan Helmy dari Sinarmas Sekuritas sebelumnya juga menyoroti bahwa pasar mulai mendekati fase penuh euforia. Ia menilai kondisi seperti itu dapat memicu risiko bubble, meski penguatan pada saham konglomerasi masih bisa berlanjut, terutama yang berpeluang masuk indeks global MSCI.
Pergerakan saham SIMP sendiri ikut menunjukkan kondisi pasar yang belum stabil. Pada penutupan perdagangan Jumat (24/4/2026), saham emiten perkebunan sawit milik Anthoni Salim itu turun 5,23 persen ke level Rp 815 per saham dari pembukaan di Rp 860.
Situasi tersebut memberi gambaran bahwa sentimen pasar masih berubah-ubah dan mudah bergerak cepat. Dalam kondisi seperti ini, penjualan oleh investor besar kerap dibaca sebagai langkah penyesuaian posisi, sementara dominasi pemegang saham pengendali membuat struktur kepemilikan SIMP tetap kuat.







