Kisah raja udang mikronesia menunjukkan betapa rapuhnya satwa pulau ketika predator asing masuk ke habitat yang sebelumnya aman. Burung kecil endemik Guam ini akhirnya dinyatakan punah di alam liar, padahal dulu ia menjadi bagian akrab dari kehidupan warga pulau dan masih menyisakan harapan lewat program konservasi.
Penyebab utamanya bukan perubahan alami, melainkan kehadiran ular pohon cokelat atau Boiga irregularis yang diperkenalkan ke Guam sekitar tahun 1940-an. Spesies invasif itu membuat raja udang mikronesia, yang selama ribuan tahun tumbuh tanpa predator alami, menjadi sangat rentan.
Ancaman tersebut tidak berdiri sendiri. Kucing juga ikut menekan kelangsungan hidup burung ini, sementara kualitas hutan menurun akibat rusa, babi, dan hewan invasif lain yang ikut diperkenalkan ke pulau itu.
Bagi masyarakat asli Guam, burung ini dikenal sebagai sihek dan punya makna budaya serta spiritual yang kuat. Karena itu, hilangnya sihek dari alam liar bukan hanya soal konservasi, tetapi juga kehilangan bagi identitas pulau.
Secara ilmiah, burung ini dikenal dengan nama Todiramphus cinnamominus. Raja udang mikronesia atau raja udang guam ini endemik Guam, sebuah pulau di barat Samudra Pasifik yang berada di timur laut Indonesia.
Tubuhnya tidak besar, tetapi tampilannya sangat mudah dikenali. Panjangnya sekitar 20—24 sentimeter dengan berat 50—76 gram, bertubuh gemuk, berkepala besar, dan memiliki paruh tebal runcing seperti belati.
Warna bulunya juga menjadi ciri paling menonjol. Punggungnya biru berkilauan, sedangkan kepala berwarna kayu manis kemerahan, dengan perbedaan warna jantan dan betina yang cukup jelas.
Sebelum populasinya merosot, burung ini hidup hampir di semua jenis habitat hutan di Guam. Ia ditemukan di hutan dewasa, hutan sekunder di substrat batu kapur dan vulkanik, hutan tepi sungai, hingga kebun besar dengan pepohonan.
Makanannya pun beragam untuk ukuran raja udang. Mangsa utamanya adalah kadal dan serangga, terutama belalang dan tonggeret.
Burung ini juga dikenal lewat kicauan serak dan keras yang biasa terdengar saat fajar. Menurut Smithsonian National Zoo & Conservation Biology Institute, suara itu muncul sangat teratur pada waktu yang sama setiap pagi.
Keteraturan tersebut bahkan masuk ke kepercayaan setempat. Suara burung ini dipercaya bisa membantu mengetahui waktu, sehingga kehadirannya dulu sangat dekat dengan kehidupan harian warga Guam.
Dalam urusan berkembang biak, raja udang mikronesia memilih pohon dengan kayu lunak atau lapuk untuk bersarang. Kadang, bagian pohon yang ada sarang rayapnya juga dipakai, lalu lubang sarang dibuat dengan menusuk kulit pohon menggunakan paruh besar sambil terbang.
Satu sarang biasanya menghasilkan 1—3 butir telur. Namun, yang berhasil tumbuh dewasa biasanya hanya satu anak burung karena sibling rivalry yang berujung fatal.
Dampak dari tekanan predator asing terlihat sangat cepat. Raja udang mikronesia dinyatakan punah di alam liar pada 1988, dan sekitar 29 ekor yang tersisa kala itu diselamatkan ke penangkaran.
Harapan untuk spesies ini belum sepenuhnya hilang. Pada 2024, beberapa ekor raja udang mikronesia diperkenalkan ke atol Palmyra di Samudra Pasifik bagian utara.
Lokasi itu dipilih karena ekosistem darat dan lautnya sehat, bebas predator invasif, dan memiliki habitat hutan yang mirip Guam. Dari sana, burung kecil ini menjadi contoh nyata betapa besar dampak spesies invasif terhadap satwa asli pulau.
Source: www.idntimes.com