Proyek LNG Abadi Masela senilai sekitar US$20,9 miliar atau Rp376,2 triliun resmi memasuki tahap pembangunan awal setelah tertahan hampir tiga dekade. Presiden Prabowo Subianto meminta pelaksanaannya tidak lagi mengalami hambatan dan dapat diselesaikan secepat mungkin.
Peresmian pembangunan awal atau groundbreaking dilakukan secara virtual dari Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, pada Kamis, 16 Juli 2026. Langkah ini membuka fase baru bagi proyek energi besar yang kontraknya telah ditandatangani sejak 1998.
Target produksi energi dari Masela
Blok Migas Abadi Masela dirancang menghasilkan LNG hingga 9,5 juta ton per tahun. Proyek ini juga ditargetkan memasok gas pipa untuk kebutuhan domestik sebesar 150 MMSCFD serta memproduksi kondensat sekitar 35.000 barel per hari.
| Komponen | Target atau Keterangan |
|---|---|
| Nilai investasi | US$20,9 miliar atau Rp376,2 triliun |
| Produksi LNG | 9,5 juta ton per tahun |
| Gas pipa domestik | 150 MMSCFD |
| Produksi kondensat | Sekitar 35.000 barel per hari |
| Progres FEED awal Juli 2026 | 79,56% |
| Target keputusan investasi akhir | Akhir 2026 |
Pengembangan proyek ini dijalankan oleh Inpex dari Jepang bersama Pertamina dan Petronas. Skala produksi yang direncanakan menempatkan Proyek Masela sebagai salah satu pengembangan migas penting bagi pasokan energi nasional.
Prabowo menyoroti lamanya penantian sebelum proyek ini memasuki tahap pembangunan awal. “Hampir 3 dekade, 3 dasawarsa kita tunggu. 3 dekade 3 dasawarsa rakyat menunggu,” kata Prabowo dalam peresmian tersebut.
Perdebatan lokasi proyek
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan proyek Abadi Masela belum dapat dieksekusi selama 28 tahun. Salah satu persoalan yang berlarut adalah perdebatan mengenai pelaksanaan fasilitas proyek di laut atau di darat.
Menurut Bahlil, arahan Presiden memberikan penegasan untuk mempercepat pelaksanaan proyek. Ia menyebut proyek tersebut telah melewati masa penantian pada era enam presiden.
“Presiden Prabowo Subianto lah yang bisa eksekusi ini,” ujar Bahlil dalam acara yang sama. Pemerintah juga mendorong percepatan terhadap konsesi perizinan minyak dan gas yang telah diberikan, terutama proyek dengan Plan of Development yang belum terlaksana.
Menuju keputusan investasi akhir
Data yang disampaikan detikcom menunjukkan progres Front End Engineering Design atau FEED Proyek Masela telah mencapai 79,56% pada awal Juli 2026. Capaian itu disebut melampaui target yang direncanakan sebelumnya.
Perizinan strategis serta penyelesaian desain fasilitas utama masih berjalan sesuai jadwal. Tahap tersebut diarahkan menuju Final Investment Decision atau keputusan investasi akhir pada penghujung 2026.
Dimulainya pembangunan awal menjadi penanda bahwa proyek yang lama tertunda telah beralih ke tahap pelaksanaan. Pemerintah menekankan agar pekerjaan konstruksi ini tidak kembali berhenti di tengah proses.
Source: finance.detik.com






